Tri Dharma Perguruan Tinggi dan Generasi Harapan Menuju Pembelajaran Sejati

Posted: August 18, 2012 in Opini

Rehat sejenak yuk dari penatnya kegiatan! dari simpang siurnya berbagai berita yang makin hari makin kelewat batas. Mari sejenak merenungkan diri, diri ini yang selalu disanjung-sanjungkan sebagai generasi harapan. Generasi harapan? Sudah seberapa pantaskah kita menyandang gelar tersebut?

“Generasi harapan adalah generasi yang disiplin, berpikir sistematis, merujuk kepada sumber hakekat bukan sekedar praduga. Ketika melihat ke langit mereka tidak lupa untuk berpijak ke bumi, sehingga dia tidak berjalan di balik khayalan dusta atau impian kosong, atau harapan hampa, seakan-akan dia berenang bukan di dalam air, dan terbang tanpa sayap.

Generasi harapan adalah generasi yang memiliki cita-cita besar, tetapi pemikirannya realistis, berharap bisa berlabuh di pantai impian, tetapi siap juga berlayar di lautan melawan goncangan gelombang dan ombak-ombak di sekitarnya. Dia mengetahui zaman bergulir, dunia berputar, hari berganti, dan stagnasi adalah suatu kemustahilan. “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)” (3:140)

Generasi harapan adalah generasi realistis yang tidak berenang di daratan, tidak menanam di lautan, tidak menabur benih di gurun, tidak merajut benang-benang khayalan, dan tidak membangun istana di atas air.

Generasi harapan juga tidak berputus asa dari kasih sayang Tuhan, tidak mudah lelah mengharap kasih sayang Penciptanya, tetapi dia mengenal batasan kemampuannya, sehingga tidak mengharapkan buah sebelum waktu panennya, tidak tergesa-gesa mengharapkan sesuatu sebelum tiba masanya, tidak memaksakan diri dari apa yang dia tidak mampu melakukannya, serta tidak membawa dirinya dalam pertikaian yang tiada jalan keluarnya…”

Belajar, kini tak lagi diartikan sebagai suatu aktivitas dimana seorang murid duduk manis, tekun membaca buku dan menulis apa yang dikatakan guru. Belajar, kini digambarkan sebagai suatu aktivitas dimana murid dan guru saling berbagi ilmu dan pandangan-pandangan, murid mencoba mengkaji lebih dalam ilmu tersebut. Itulah sejatinya belajar. Pembelajaraan sejati, ialah pembelajaran secara kontinu dan berdaya guna tinggi bagi kemaslahatan umat manusia.

Tri Dharma Perguruan Tinggi yang terdiri atas: 1)Pendidikan dan pengajaran; 2)Penelitian dan Pengembangan;3) Pengabdian Masyarakat menggambarkan secara utuh fase-fase menuju pembelajaran sejati. Juga mendeskripsikan bagaimana proses belajar yang baik bagi seorang mahasiswa secara keseluruhan. Dari dalam ke luar. Dari hal yang kecil ke hal yang besar.

Dharma pertama, ‘Pendidikan dan Pengajaran’ adalah fase paling awal dari sebuah pembelajaran sejati. Ini merupakan fase yang berada di ‘dalam’, yaitu kegiatan yang terjadi di balik dinding perguruan tinggi. Mahasiswa dididik dan diajarkan ilmu-ilmu sesuai minat dan bakat mereka, agar tiap mahasiswa menjadi ahli di bidangnya masing-masing.

Perguruan tinggi mempersiapkan para mahasiswanya kelak menjadi pelajar sejati dengan membekali mereka dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mahasiswa diperkenalkan pada kultur belajar yang sebenarnya : kerjasama dan kompetisi. Dua hal bertolak belakang namun sangat kental mewarnai bangku perkuliahan. Tak hanya itu, soft skill mereka juga dilatih lewat terselenggaranya organisasi kemahasiswaan.

Dharma kedua yaitu ‘Penelitian dan Pengembangan’ merupakan fase lanjutan. Ibarat pesawat, fase ini adalah fase take-off. Mahasiswa dituntut lepas landas dari bangku nyaman mereka, dan menemukan bagaimana cara agar teori-teori yang mereka dapatkan di kelas dapat berinovasi menjadi sesuatu yang dapat diaplikasikan di dunia nyata.

Kegiatan mempelajari inilah apa yang kita sebut penelitian. Penelitian meningkatkan derajat keilmuan mahasiswa. Namun, penelitian tidak akan berarti tanpa adanya pengembangan, hasil penelitian dapat menyesuaikan diri dengan perubahan zaman dan kebutuhan sehingga berdaya guna tinggi. Pengembangan adalah penggerak agar penelitian dapat terus berkesinambungan.

‘Pengabdian pada Masyarakat’ sebagai dharma ketiga adalah fase akhir dari sebuah pembelajaran sejati. Belajar, hakikatnya tak hanya berguna untuk diri sendiri, tapi juga harus berguna bagi orang banyak. Pada fase ini akan ditentukan sukses tidaknya seorang mahasiswa dalam perkuliahannya.

Sukses tidak diukur dari tingginya IPK, atau jabatan apa yang bisa mahasiswa raih setelah lulus dan bekerja. Tetapi bagaimana ilmu yang ia serap selama ini dapat mahasiswa olah dan kembangkan untuk mengabdi pada masyarakatnya, memberikan persembahan terbaik bagi bangsanya dan pembelajaran sejati untuk memajukan negaranya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s