Terharu…Quraish Shihab, Sang Ulama Pengubah Dunia

Posted: August 26, 2012 in Islam

Nama lengkapnya adalah Muhammad Quraish Shihab. Ia lahir tanggal 16 Februari 1944 di Rapang, Sulawesi Selatan.[1] Ia berasal dari keluarga keturunan Arab yang terpelajar. Ayahnya, Prof. KH. Abdurrahman Shihab adalah seorang ulama dan guru besar dalam bidang tafsir. Abdurrahman Shihab dipandang sebagai salah seorang tokoh pendidik yang memiliki reputasi baik di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan. Kontribusinya dalam bidang pendidikan terbukti dari usahanya membina dua perguruan tinggi di Ujungpandang, yaitu Universitas Muslim Indonesia (UMI), sebuah perguruan tinggi swasta terbesar di kawasan Indonesia bagian timur, dan IAIN Alauddin Ujungpandang.

Ia juga tercatat sebagai mantan rektor pada kedua perguruan tinggi tersebut: UMI 1959 – 1965 dan IAIN 1972 – 1977. Sebagai seorang yang berpikiran maju, Abdurrahman percaya bahwa pendidikan adalah merupakan agen perubahan. Sikap dan pandangannya yang demikian maju itu dapat dilihat dari latar belakang pendidikannya, yaitu Jami’atul Khair, sebuah lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Murid-murid yang belajar di lembaga ini diajari tentang gagasan-gagasan pembaruan gerakan dan pemikiran Islam. Hal ini terjadi karena lembaga ini memiliki hubungan yang erat dengan sumber-sumber pembaruan di Timur Tengah seperti Hadramaut, Haramaian dan Mesir. Banyak guru-guru yang di­datangkarn ke lembaga tersebut, di antaranya Syaikh Ahmad Soorkati yang berasal dari Sudan, Afrika.Sebagai putra dari seorang guru besar, Quraish Shihab mendapatkan motivasi awal dan benih kecintaan terhadap bidang studi tafsir dari ayahnya yang sering mengajak anak-anaknya duduk bersama. Pada saat-saat seperti inilah sang ayah menyampaikan nasihatnya yang kebanyakan berupa ayat-ayat al-Qur’an. Quraish kecil telah menjalani pergumulan dan kecintaan terhadap al-Qur’an sejak umur 6-7 tahun. Ia harus mengikuti pengajian al-Qur’an yang diadakan oleh ayahnya sendiri. Selain menyuruh membaca al-Qur’an, ayahnya juga menguraikan secara sepintas kisah-kisah dalam al-Qur’an. Di sinilah, benih-benih kecintaannya kepada al-Qur’an mulai tumbuh.[2]

Pendidikan formalnya dimulai dari sekolah dasar di Ujungpandang. Setelah itu ia melanjutkan ke sekolah lanjutan tingkat pertama di kota Malang sambil “nyantri” di Pondok Pesantren Darul Hadis al-Falaqiyah di kota yang sama. Untuk mendalami studi keislamannya, Quraish Shihab dikirim oleh ayahnya ke al-Azhar, Cairo, pada tahun 1958 dan diterima di kelas dua sanawiyah. Setelah itu, ia melanjutkan studinya ke Universitas al-Azhar pada Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir dan Hadits. Pada tahun 1967 ia meraih gelar LC (setingkat sarjana S1). Dua tahun kemudian (1969), Quraish Shihab berhasil meraih gelar M.A. pada jurusan yang sama dengan tesis berjudul “al-I’jaz at-Tasryri’i al-Qur’an al-Karim (kemukjizatan al-Qur’an al-Karim dari Segi Hukum)”.

Pada tahun 1973 ia dipanggil pulang ke Ujungpandang oleh ayahnya yang ketika itu menjabat rektor, untuk membantu mengelola pendidikan di IAIN Alauddin. Ia menjadi wakil rektor bidang akademis dan kemahasiswaan sampai tahun 1980. Di samping mendududki jabatan resmi itu, ia juga sering memwakili ayahnya yang uzur karena usia dalam menjalankan tugas-tugas pokok tertentu. Berturut-turut setelah itu, Quraish Shihab diserahi berbagai jabatan, seperti koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah VII Indonesia bagian timur, pembantu pimpinan kepolisian Indonesia Timur dalam bidang pembinaan mental, dan sederetan jabatan lainnya di luar kampus. Di celah-celah kesibukannya ia masih sempat merampungkan beberapa tugas penelitian, antara lain Penerapan Kerukunan Hidup Beragama di Indonesia (1975) dan Masalah Wakaf Sulawesi Selatan (1978).

Untuk mewujudkan cita-citanya, ia mendalami studi tafsir, pada 1980 Quraish Shihab kembali menuntut ilmu ke almamaternya, al-Azhar, mengambil spesialisasi dalam studi tafsir al-Qur’an. Ia hanya memerlukan waktu dua tahun untuk meraih gelar doktor dalam bidang ini. Disertasinya yang berjudul “Nazm ad-Durar li al-Biqa’i Tahqiq wa Dirasah (Suatu Kajian terhadap Kitab Nazm ad-Durar [Rangkaian Mutiara] karya al-Biqa’i)” berhasil dipertahankannya dengan predikat summa cum laude dengan penghargaan Mumtaz Ma’a Martabah asy-Syaraf al-Ula (sarjana teladan dengan prestasi istimewa).

Pendidikan Tingginya yang kebanyakan ditempuh di Timur Tengah, Al-Azhar, Cairo ini, oleh Howard M. Federspiel dianggap sebagai seorang yang unik bagi Indonesia pada saat di mana sebagian pendidikan pada tingkat itu diselesaikan di Barat. Mengenai hal ini ia mengatakan sebagai berikut:

Ketika meneliti bio­grafinya, saya menemukan bahwa ia berasal dari Sulawesi Selatan, terdidik di pesantren, dan menerima pendidikan ting­ginya di Mesir pada Universitas Al-Azhar, di mana ia mene­rima gelar M.A dan Ph.D-nya. Ini menjadikan ia terdidik lebih baik dibandingkan dengan hampir semua pengarang lainnya yang terdapat dalam Popular Indonesian Literature of the Quran dan, lebih dari itu, tingkat pendidikan tingginya di Timur Tengah seperti itu menjadikan ia unik bagi Indonesia pada saat di mana sebagian pendidikan pada tingkat itu diselesaikan di Barat. Dia juga mempunyai karier mengajar yang penting di IAIN Ujung Pandang dan Jakarta dan kini, bahkan, ia menjabat sebagai rektor di IAIN Jakarta. Ini merupakan karier yang sangat menonjol.

Tahun 1984 adalah babak baru tahap kedua bagi Quraish Shihab untuk melanjutkan kariernya. Untuk itu ia pindah tugas dari IAIN Ujung Pandang ke Fakultas Ushuluddin di IAIN Jakarta. Di sini ia aktif mengajar bidang Tafsir dan Ulum Al-Quran di Program S1, S2 dan S3 sampai tahun 1998. Di samping melaksanakan tugas pokoknya sebagai dosen, ia juga dipercaya menduduki jabatan sebagai Rektor IAIN Jakarta selama dua periode (1992-1996 dan 1997-1998). Setelah itu ia dipercaya menduduki jabatan sebagai Menteri Agama selama kurang lebih dua bulan di awal tahun 1998, hingga kemudian dia diangkat sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk negara Republik Arab Mesir merangkap negara Republik Djibauti berkedudukan di Kairo.Kehadiran Quraish Shihab di Ibukota Jakarta telah memberikan suasana baru dan disambut hangat oleh masyarakat. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai aktivitas yang dijalankannya di tengah-tengah masyarakat. Di samping mengajar, ia juga dipercaya untuk menduduki sejumlah jabatan. Di antaranya adalah sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (sejak 1984), anggota Lajnah Pentashhih Al-Qur’an Departemen Agama sejak 1989. Dia juga terlibat dalam beberapa organisasi profesional, antara lain Asisten Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), ketika organisasi ini didirikan. Selanjutnya ia juga tercatat sebagai Pengurus Perhimpunan Ilmu-ilmu Syariah, dan Pengurus Konsorsium Ilmu-ilmu Agama Dapertemen Pendidikan dan Kebudayaan. Aktivitas lainnya yang ia lakukan adalah sebagai Dewan Redaksi Studia Islamika: Indonesian journal for Islamic Studies, Ulumul Qur ‘an, Mimbar Ulama, dan Refleksi jurnal Kajian Agama dan Filsafat. Semua penerbitan ini berada di Jakarta.

Di samping kegiatan tersebut di atas, H.M.Quraish Shihab juga dikenal sebagai penulis dan penceramah yang handal. Berdasar pada latar belakang keilmuan yang kokoh yang ia tempuh melalui pendidikan formal serta ditopang oleh kemampuannya menyampaikan pendapat dan gagasan dengan bahasa yang sederhana, tetapi lugas, rasional, dan kecenderungan pemikiran yang moderat, ia tampil sebagai penceramah dan penulis yang bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat. Kegiatan ceramah ini ia lakukan di sejumlah masjid bergengsi di Jakarta, seperti Masjid al-Tin dan Fathullah, di lingkungan pejabat pemerintah seperti pengajian Istiqlal serta di sejumlah stasiun televisi atau media elektronik, khususnya di.bulan Ramadhan. Beberapa stasiun televisi, seperti RCTI dan Metro TV mempunyai program khusus selama Ramadhan yang diasuh olehnya. Quraish Shihab memang bukan satu-satunya pakar al-Qur’an di Indonesia, tetapi kemampuannya menerjemahkan dan meyampaikan pesan-pesan al-Qur’an dalam konteks masa kini dan masa modern membuatnya lebih dikenal dan lebih unggul daripada pakar al-Qur’an lainnya.

Dalam hal penafsiran, ia cenderung menekankan pentingnya penggunaan metode tafsir maudu’i (tematik), yaitu penafsiran dengan cara menghimpun sejumlah ayat al-Qur’an yang tersebar dalam berbagai surah yang membahas masalah yang sama, kemudian menjelaskan pengertian menyeluruh dari ayat-ayat tersebut dan selanjutnya menarik kesimpulan sebagai jawaban terhadap masalah yang menjadi pokok bahasan. Menurutnya, dengan metode ini dapat diungkapkan pendapat-pendapat al-Qur’an tentang berbagai masalah kehidupan, sekaligus dapat dijadikan bukti bahwa ayat al-Qur’an sejalan dengan perkembangan iptek dan kemajuan peradaban masyarakat.

Quraish Shihab banyak menekankan perlunya memahami wahyu Ilahi secara kontekstual dan tidak semata-mata terpaku pada makna tekstual agar pesan-pesan yang terkandung di dalamnya dapat difungsikan dalam kehidupan nyata. Ia juga banyak memotivasi mahasiswanya, khususnya di tingkat pasca sarjana, agar berani menafsirkan al-Qur’an, tetapi dengan tetap berpegang ketat pada kaidah-kaidah tafsir yang sudah dipandang baku. Menurutnya, penafsiran terhadap al-Qur’an tidak akan pernah berakhir. Dari masa ke masa selalu saja muncul penafsiran baru sejalan dengan perkembangan ilmu dan tuntutan kemajuan. Meski begitu ia tetap mengingatkan perlunya sikap teliti dan ekstra hati-hati dalam menafsirkan al-Qur’an sehingga seseorang tidak mudah mengklaim suatu pendapat sebagai pendapat al-Qur’an. Bahkan, menurutnya adalah satu dosa besar bila seseorang mamaksakan pendapatnya atas nama al-Qur’an.

Quraish Shihab adalah seorang ahli tafsir yang pendidik. Keahliannya dalam bidang tafsir tersebut untuk diabdikan dalam bidang pendidikan. Kedudukannya sebagai Pembantu Rektor, Rektor, Menteri Agama, Ketua MUI, Staf Ahli Mendikbud, Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan, menulis karya ilmiah, dan ceramah amat erat kaitannya dengan kegiatan pendidikan. Dengan kata lain bahw ia adalah seorang ulama yang memanfaatkan keahliannya untuk mendidik umat. Hal ini ia lakukan pula melalui sikap dan kepribadiannya yang penuh dengan sikap dan sifatnya yang patut diteladani. Ia memiliki sifat-sifat sebagai guru atau pendidik yang patut diteladani. Penampilannya yang sederhana, tawadlu, sayang kepada semua orang, jujur, amanah, dan tegas dalam prinsip adalah merupakan bagian dari sikap yang seharusnya dimiliki seorang guru.

Saat ini, rambutnya sudah menipis dan sebagian besar juga telah memutih. Ia terlihat berbeda dengan sosok yang kerap muncul di televisi, yang biasa mengenakan baju koko dan peci. Jalannya tertatih. Ia juga batuk-batuk. Tapi sedikit pun tak terdengar keluhan darinya. Ia mengaku masih kuat mengajar dan memberi taujih. “Selagi mampu, menyampaikan kebenaran ke umat adalah wajib,” ujarnya.

Di bulan Ramadan, undangan ceramah datang nyaris setiap hari. Terkadang, sejak subuh, Quraish sudah keluar rumah untuk ceramah. Praktis, tak ada waktu luang baginya. Kesibukannya berdakwah dengan lisan mengurangi produktivitas dakwah dengan penanya. Quraish telah menulis sekitar 30 judul buku, termasuk Tafsir al-Misbah yang terdiri dari 15 volume dan dia kerjakan dalam empat tahun. Saat ini ia baru saja selesai menulis buku yangbelum diberi judul, yang berisi tentang filosofi umrah dan haji. Hobi menulisnya terpaksa dipendam karena kesibukan ceramah.

Selain soal jadwal ceramah yang padat, ia memang tidak bisa menulis tanpa teh hitam di mejanya. Kebiasaan itu mulai dilakukannya sejak masih kuliah di Universitas Al-Azhar, Mesir. Ia menulis minimal delapan jam sehari, dimulai sehabis shalat subuh. “Tehnya saya buat sendiri loh,” katanya.

Quraish memiliki lima anak. Empat perempuan dan satu pria. Semua nama putrinya diawali huruf N, yakni Najla, Najwa, Naswa, dan Nahla. “Yang putra, saya beri nama Ahmad,” katanya. Kenapa N? Menurut Quraish, karena Tuhan bersumpah di Al-Quran tentang budi pekerti Nabi Muhammmad dengan huruf N. “Nuun, wal qolami wa maa yasthuruun,” katanya. N, demi pena dan segala sesuatu yang dituliskannya. Di dalam kosa kata Arab, ia menambahkan, N juga melambangkan hal positif. Misalnya Naswa yang berarti kegembiraan.

Ia berprinsip, dalam mendidik anak, yang penting adalah keteladanan. Quraish tidak mau memaksakan kehendak. Sebagai orangtua ia hanya memberi rambu agama. Termasuk dalam hal berpakaian. Dari semua putrinya, yang memakai jilbab hanya Najla. Yang penting, pakaian itu harus terhormat. Ia menganggap ayat Al-Qur”an yang berbicara tentang pakaian wanita mengandung aneka interpretasi. Sedangkan hadist yang merupakan rujukan untuk pembahasan tentang batas aurat, juga terdapat ketidaksepakatan. Ada yang bilang aurat itu seluruh badan kecuali mata. Ada yang bilang juga seluruh badan, kecuali wajah dan telapak tangan. Ada yang berpendapat, yang penting muslimah itu memakai pakaian terhormat. Kesimpulannya, ketetapan hukum tentang batas yang ditoleransi dari aurat wanita bersifat zhanniy yakni dugaan. “Silakan pilih, maunya yang mana.”

Setiap pagi anak-anaknya selalu menyalaminya, dan juga mencium pipi atau kening. Kalau tidak sempat, anaknya pamit lewat telepon. Kebiasaan ini tidak sulit, karena tempat tinggal anak-anaknya tidak jauh. Kedekatan tersebut bahkan berdampak hingga urusan makanan. Sebulan terakhir, ada seorang koki yang setiap hari memasak dan mengirimkan makanan ke rumah masing-masing anggota keluarga Shihab. Soal menu, setiap anak bebas mengusulkan. Quraish berharap, dengan metode ini, hubungan antar keluarganya terus lekat. “Ketimbang beli makan di luar yang belum tentu sehat,” ujar Quraish.

Suatu ketika, empat orang dari Social Trust Fund Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta datang bertamu. Mereka hendak meminta arahan dari Quraish tentang yayasan dana sosial masyarakat yang baru akan dibentuk itu. Di yayasan ini, Quraish duduk di Dewan Pembina. Quraish menyukai moto yayasan ini, yakni “Berderma untuk Mengubah Dunia”. Entah kebetulan atau bukan, itulah yang dikatakan cucunya yang berusia 10 tahun, Nislah, ketika ditanya tentang dirinya. Suatu kali, dengan bercanda, kolega Quarish bertanya kepada Nislah. “Kenal sama Quraish Shihab?” Nislah menjawab, “Kenal”. Kolega itu bertanya lagi, “Apa kerja Quraish Shihab?” Sang cucu menjawab, “Ia mengubah dunia.”

Sejak aktif mengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pertengahan 1990-an, nama Quraish terus meroket. Selain duduk sebagai rektor di kampus itu selama dua periode, pria kelahiran Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan ini juga aktif di organisasi ke-Islaman. Ia aktif di Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia . Ia juga menjadi Dewan Redaksi Studia Islamika: Indonesian journal for Islamic Studies, Ulumul Qur’an, Mimbar Ulama, dan Refleksi Jurnal Kajian Agama dan Filsafat.

Kepiawaiannya menjawab pelbagai persoalan umat membuatnya dipercaya menduduki kursi Menteri Agama, meski hanya berlangsung selama dua bulan pada 1998 karena kemudian Soeharto lengser. Setahun kemudian, ia diangkat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Mesir. Ia juga sempat menjadi menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia sebelum reformasi. Yang monumental kala itu adalah masalah pendirian Bank Muammalat, bank Islam pertama di Indonesia. Menurutnya keberadaan bank Islam itu atas upaya gigih dari MUI. “Kami yang meyakinkan pemerintah,” tutur doktor di bidang tafsir Universitas Al-Azhar ini.

Menteri Agama di akhir rezim Soeharto ini memiliki kemewahan itu, tapi tak pernah menyimpan di hatinya. Quraish terkejut ketika ditelpon Soeharto untuk diminta menjadi Menteri Agama. Ia tidak pernah bermimpi menjadi menteri. Telepon itu tidak lebih dari lima menit. Sebagai pribadi, ia menilai, Soeharto seorang yang sangat Jawa. Itu dilihat dari cara makannya. Menurut Quraish, makanan yang dikonsumsi Soeharto sederhana dan tidak berlebihan. “Kalau satu meja dengan Pak Harto itu, dia akan sodorkan makanan duluan ke tamunya. Dia yang ambilkan. Tidak semua orang tahu itu,” ujarnya. Sebenarnya, ia mulai akrab dengan Soeharto sejak Siti Hartinah alias Tien Soeharto meninggal pada April 1996. Hampir setiap malam, setelah memberi ceramah di rumahnya, ia menemui sang presiden. Pada malam ke-40 hari Tien Soeharto meninggal, Quraish dipercaya memberi tausiyah.

Dalam memberi tausiyah ada syarat tak tertulis dari Quraish. Ia tidak mau mengenakan baju pinjaman, apalagi dari sponsor. Kalaupun iya, Quraish akan meminta baju itu sebagai hak milik. Prinsip itu dipegang benar Quraish sejak kecil. Ia dididik sang ayah, Abdurrahman Shihab, sang guru besar tafsir, untuk jangan pernah meminjam barang orang lain. Dalam persepsinya, meminjam itu tidak mencerminkan apa adanya. “Anda ingin tampak lebih baik dari diri Anda yang sebenarnya. Kenapa mau kelihatan kaya padahal Anda tidak kaya,” kata Quraish yang juga mengajarkan prinsip ini ke anak cucunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s