Korupsi di Bangsa ini Dimulai dari Mahasiswa (?)

Posted: September 1, 2012 in Akademik, Opini

Korupsi Berawal dari mahasiswa? mungkin aja…

Kebanyakan tulisan mencari akar masalah di lembaga pemerintahan

Buat saya korupsi di bangsa ini pertama kali masalahnya ada di Mahasiswa !

Saya masih mahasiswa, dan saya melihat itu semua, dari budaya:

  1. Nyontek
  2. Titip Absen
  3. Buat LPJ
  4. Eksistensi Kegiatan

Omongannya tinggi, bela rakyat, padahal masih nyontek, titip absen, buat LPJ tipu sana sini bahkan ga tanggung-tanggung menghabiskan uang jutaan untuk eksistensi kegiatan tertentu. Padahal urgentsitas terhadap kegiatan tersebut hampir mendekati NOL.

Seharusnya mahasiswa ditanya, apakah sudah benar-benar 4 perkara di atas terlepas.

Saya sarankan media tidak berfokus kepada pejabat, tapi para mahasiswa. Agar rakyat tidak dibodoh-bodohi oleh kelakuan para mahasiswa yang ngakunya bela rakyat, padahal duit bulanan masih minta minta emak, sekalinya dapet beasiswa langsung beli gadget. Upss…

Pas udah jadi pejabat ujug ujug lebih sibuk nimbun harta. Silahkan liat sejarah, apa yang terjadi kepada mahasiwa yang menuntut kemerdekaan, tritura, reformasi, bahkan baru baru ini revolusi. Mereka lupa saat sudah menjadi pejabat (pengatur hajat hidup banyak orang).

Saya mahasiswa, dan saya sadar betul korupsi itu mengakar dari diri sendiri. Mulai dari segan untuk MENCEGAH teman yang nyontek, titip absen dsb.

Kemudian, Saya membayangkan saat saya jadi pejabat, dan melihat teman saya korupsi, dan saya tidak mencegahnya, karena takut hubungan pertemanan rusak. Itulah akar korupsi menurut saya pribadi.

Karena orang jujur itu tidak cukup. Dia harus jadi orang RESE bagi orang jahat. Maksudnya seperti yang dilakukan Ibu Siami, yang melaporkan tindakan kecurangan di sekolah anaknya.

Saya dan teman-teman saya bukan korupsi harta. Saya bisa taro Handphone, Uang , Tas, di dalam lab, himpunan, dan bisa pinjem motor, bahkan PIN ATM sekalipun juga bisa dikasih.

Tapi kalo sudah masalah nilai dan absensi, kelakuan mahasiswa seperti tidak punya TUHAN. Contek sana sini, titip absen sana sini. Mahasiswa mana yang PERNAH lapor kalo ke dosen kalo ada pencontek di kelasnya? Kalo ga dibilang tuh si pelapor, tukang jilat, sok suci, dsb. Anda lihat kan dimana akar korupsinya?

Ya, bangsa ini masih banyak kok orang jujur. Tetapi sedikit sekali yang RESE. Mahasiswa lebih mudah protes ke pejabat (yang belum tentu benar kalo pejabat itu korupsi atau tidak), padahal temannya yang nyontek dan titip absen dinasihati pun tidak.

Sumber: http://nocual.wordpress.com/2011/08/21/tulisan-bebas-mahasiswa-akar-korupsi-siapa-yang-bilang

Sekilas setelah baca artikel di atas pertama kali,,, wow, ada juga yang berani menceritakan kehidupan akademis mahasiswa saat ini… kalau seandainya penulis artikel di atas benar masih kuliah,  (penulis artikel ini tidak diketahui identitasnya-sepertinya memang disembunyikan) dia memiliki kemungkinan yang sangat besar untuk dibenci sama teman-temannya.

Sejujurnya di kampus-kampus manapun saya pikir artikel di atas berlaku.  Kalau kita setuju opini di atas(red-dibenci setelah melapor) ya itulah harga yang harus dibayar orang yang mau menegakkan kebenaran, tinggal siapa yang mau bayar harga itu? Sistem sosial pergaulan mahasiswa(ataukah masyarakat juga?) saat ini seolah “membenarkan” perilaku tersebut (mungkin ini bsa jadi riset mahasiswa sosiologi)

Lebih miris lagi whistle blower, istilah orang yang menyuarakan satu kasus(dalam hal ini korupsi) saat ini juga dihukum, terlepas dari orang yang bersangkutan juga punya kesalahan, tapi ujung-ujungnya yang dihukum ya cuma beberapa orang saja yang terbukti kuat atau apesnya cuma si pelapor. Apakah ini menjadi preseden yang baik? sepertinya tidak, yang melapor kasus korupsi bisa jadi akan semakin malas/berkurang kecuali dia benar-benar bersih.

Pertanyaannya masih adakah yang benar-benar bersih saat ini? jawabannya  masih ada,, kan sudah diajarin pelajaran agama setidaknya 12 tahun di sekolah formal(buat yang studi sampai SMA),, mau bersuara? jawabannya belum tentu.

Demikian pula bersih dari mencontek/setidaknya sudah berhenti mencontek/titip absen (konteksnya masih kuliah) juga masih ada,, cuma jumlahnya tidak banyak. Lalu poin akhirnya adalah, maukah kita memperbanyak jumlah yang yang saat ini tidak banyak itu?

Korupsi akar permasalahan bangsa, setuju?

Akar korupsi adalah budaya jalan pintas (red-untuk cepat kaya/mengamankan jabatan atau posisi-konteks tunduk sama atasan supaya tidak dipecat/tunda promosi), setuju?

Salah satu akar budaya jalan pintas adalah pendidikan yang meleset dari proses menjadi hasil akhir, setuju?

Mengapa menjadi fokus di hasil akhir? karena mungkin prosesnya kurang dihargai atau lingkungannya kurang mendukung dia untuk berproses. (mungkin bisa juga baca juga http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/338297/ ), setuju?

Oke, terlepas dari semua itu saya pikir hanya di pertanyaan no. 1 mayoritas orang dapat dipastikan menjawab setuju.

Lalu bagaimana cara untuk mengurangi korupsi? jawabannya kembali ke kitab suci agama masing-masing. Pasti ada ayat-ayat suci yang menyinggung tentang mencuri.  Jadi saran saya adalah

1. Buat poster tentang tulisan/kutipan ayat2 suci tersebut yang menyebutkan larangan tersebut dalam ukuran tulisan yang besar. Tempel di lift, tangga, dan pintu  atau tempat-tempat strategis lainnya. Hal ini seharusnya menggerakan nurani mereka ketika membacanya (tidak berlaku jika dan hanya jika tidak punya nurani)

2. Tindakan ini dilakukan secara terpusat oleh pemerintah kepada setiap departemen-departemen dan lembaga tingginya, dan ini akan menjadi langkah konkret yang relatif murah karena yang dituju adalah hati nurani yang telah diperlengkapi dengan pelajaran agama masing-masing (asumsinya : seluruh warga negara kita telah menanamkan agama sejak kecil).

3. Pada poster tersebut : perjelas dan definisikan tindakan-tindakan yang tergolong korupsi. Saat ini mungkin ada orang tidak sadar kalau yang uang yang dia pakai adalah hasil dari tindakan yang tergolong korupsi (terbukti kalau baca berita persidangan korupsi banyak yang mengelak dengan berbagai alasan). Kalau tindakan yang tergolong korupsi sengaja di-blur-kan untuk diperjelas (jadi zona abu-abu), maka orang akan dengan mudahnya mencari pembenaran, akan tetapi kalau sudah diperjelas dan semua orang tahu itu korupsi, setidaknya mereka akan berpikir dua kali (apalagi sekarang sudah ada namanya KPK).

4. Orang-orang yang selama ini sudah bertindak jujur dan berintegritas, milikilah komunitas, saling menguatkan untuk tetap bertahan supaya tidak korup dilingkungan kerja yang mungkin korup karena orang-orang tipe ini (jujur dan berintegritas) pasti ada disetiap agama dan disetiap kantor.

Berharap orang yang membaca artikel ini kelak akan menjadi pejabat/pemimpin di republik ini yang tidak korupsi dan berintegritas (amin), dan saat itu berharap pula korupsi sudah jauh berkurang dari sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s