Humor

Rangkaian humor di bawah ini saya terjemahkan atau saya tulis ulang dari berbagai sumber. Umumnya terkait dengan agama. Bagi yang berpandangan bahwa agama adalah sesuatu yang terlalu suci untuk dijadikan bahan lelucon, sebaiknya tidak membacanya. Yang di bawah ini dimuat di Majalah Madina No. 1, Januari 2008

Logika?

Tarunaromix adalah seorang guru SMP yang terkenal otoriter di kelas. Dia sangat ditakuti oleh murid-muridnya. Persoalannya lagi, dia itu ateis dan sangat fanatik dengan keyakinannya tersebut.

Suatu kali ia merasa perlu menyebarkan kepercayaannya itu kepada murid-muridnya. Maka selama dua jam ia berusaha mengajarkan logika tentang mengapa ateisme itu benar — ‘kenapa eksistensi Tuhan adalah sesuatu yang bertentangan dengan akal’, tentang ‘agama sebagai racun’ tentang ‘Tuhan sebagai sesuatu yang tidak bisa dibuktikan secara empiris’, dan seterusnya.

Seusai puas berpropaganda, ia pun bertanya kepada murid-muridnya: apakah ada di antara mereka yang juga ateis. Meski dengan tidak yakin, tapi karena merasa harus menyenangkan hati guru, hampir semua murid mengacungkan tangan.

Kecuali seorang murid. Nadia, begitu nama anak cantik itu, memilih tidak ikut dalam arus teman-temannya. Ia cuma diam. Sang guru pun bertanya mengapa ia memutuskan untuk berbeda.

‘’Karena… saya bukan ateis,’’ jawab Nadia.

‘’Jadi kamu apa?’’

‘’Saya seorang Muslim.’’

Sang guru merasa agak terganggu dengan jawaban itu. Wajahnya agak memerah. Ia bertanya mengapa Nadia adalah seorang Muslim.

‘’Well, ‘’ kata Nadia, ‘’saya dibesarkan untuk mengenal dan mencintai Allah. Ibuku seorang Muslim, dan ayahku adalah seorang Muslim, jadi aku juga seorang Muslim.’’

Sang guru melihat celah dalam logika si anak. ’’Tapi, bukankan tidak seharusnya begitu,’’ ujarnya dengan nada agak tinggi.

’’Bagaimana kalau ibumu adalah seorang tolol dan ayahmu adalah seorang yang tolol. Lantas kamu jadi apa?’’

Nadia terdiam dan tersenyum. ‘’Saya,’’  kata Nadia, ‘’akan menjadi ateis.’’

 

Kalau di Neraka?

Tarunaromix bukan sekadar ateis, dia juga menganggap rendah orang-orang yang percaya pada agama. Suatu kali dia bertemu dengan temannya yang terkenal sebagai Muslim taat. Tanpa peduli pada perasaan orang, dia mulai menyindir, ’’Hei, bagaimana cerita tentang nabimu yang naik ke langit itu?’’

’’Ya,’’ jawab Rifki dengan kalem, ’’dalam Islam memang ada kepercayaan bahwa Nabi Muhammad pernah berangkat ke langit pada malam Isra’ Miraj’’

’’Dan kamu percaya itu benar-benar terjadi?’’ kata Tarunaromix dengan sinis.

’’Akan aku tanyakan padanya di surga nanti,’’ jawab Rifki lagi.

’’Hah, iya kalau di surga,’’ tukas si ateis, ’’bagaimana kalau dia ada di neraka?’’

’’Ya kalau begitu, kamu yang menanyakannya…’’

 

Siapa Yang Membeli Belanjaan

Tarunaromix yang ateis itu tinggal bersebelahan dengan seorang wanita tua yang miskin dan sangat kuat keimanannya. Dengan sebal setiap hari, Tarunarmix melihat bagaimana wanita miskin itu – yang hidup hanya dari uang pensiun almarhum suaminya – rajin beribadat, shalat, mengaji, berzikir.

Tarunaromix ingin sekali membuat wanita itu meninggalkan kepercayaannya. Dalam berbagai kesempatan, ia dengan sengaja mengejek keyakinan sang ibu tua dan mempertanyakan kepercayaannya mengenai Tuhan. Tapi kelihatannya, semua itu tak ada gunanya.

Suatu kali, tanpa sengaja, Tarunaromix mendengar si wanita itu berdoa. Pada intinya, wanita itu meminta Allah untuk menolongnya, karena ia sedang kehabisan uang untuk membeli keperluan pokok sehari-hari. Akal licik Tarunaromix terbuka. Ia buru-buru berangkat ke supermarket dan membeli apa yang dianggapnya sebagai kebutuhan sang ibu. Belanjaan itu kemudian ia letakkan di depan pintu  rumah si wanita. Ia mengetuk pintu, dan kemudian dengan cepat menyelinap bersembunyi di samping rumah.

Begitu membuka pintu, si wanita terkejut dengan belanjaan itu. ’’Alhamdulillah, Alhamdulillah, ya Allah,’’ serunya berulang kali.

Saat itulah, Tarunaromix meloncat dan berteriak penuh kepuasan: ’’HAH, itu semua bukan dari Tuhan; itu semua dari aku, … aku yang membelinya!!!’’

Si wanita  terdiam satu detik, sebelum menengadah dan berkata lagi: ’’Ya Allah, Maha Besar Engkau! Bukan saja Engkau menyediakan kebutuhanku, Engkau juga menyuruh setan membayarinya!’’

 

Nazar Berjenjang

Tarunaromix memiliki teman bernama Filipelix. Meski percaya bahwa Tuhan ada, ia sombong. Ia kaya, tapi sangat pelit. Tak pernah ia mau menyantuni fakir miskin.

Suatu kali, ia terjebak dalam situasi yang menakutkan. Pesawat yang ditumpanginya terbang dalam cuaca sangat buruk saat sudah hampir tiba ke tempat tujuan. Pesawat tergoncang sangat hebat. Penuh ketakutan, para penumpang pun berdoa, termasuk Filipelix.

’’Ya Allah,’’ ujar Filipelix, ’’tolonglah aku. Engkaulah segala-galanya. Aku bernazar, ya Tuhan, kalau aku sampai tiba dengan selamat, aku akan hibahkan 1 miliar rupiah buat kaum miskin.’’

Perlahan-lahan cuaca membaik. Goncangan berkurang. Tapi tetap terasa pesawat tidak stabil. ’’Ya Allah,’ kata Filipelix lagi, menyadari bahwa peluang untuk selamat membesar, ’’tolong selamatkan aku, aku bernazar 100 juta rupiah buat kamu miskin..’

Cuaca semakin membaik. Tak ada guncangan lagi. Pesawat perlahan-lahan turun. ’’Ya Allah,’’ kata Filipelix, semakin optimistis. ’’sepuluh juta ya, sepuluh juta deh…’’

Dan pesawat pun tiba dengan selamat. Hujan tinggal rintik-rintik. Penumpang turun dengan bahagia. Keluar dari bandara Filipelix teringat dengan percakapannya. Dengan tersenyum lebar ia bergumam, ’’Allah, yang tadi nggak jadi ya …’’

Saat itulah sebuah petir menyambarnya.

 

Tembok Israel

Seorang turis datang berkunjung ke Israel. Pemandu perjalanan mengantarnya ke sebuah peninggalan bersejarah, Tembok Barat. Sang turis tidak cukup paham dengan aspek-aspek keagamaan, sehingga ia merasa perlu bertanya tentang arti penting tembok tersebut. Si pemandu menjawab, ’’Ini adalah sebuah tembok suci. Apapun yang kau minta pada Tuhan, akan didengar dan dijawabNya.’’

Sang turis mendekati tembok dan mulai berdoa. ’’Ya Tuhanku,’’ katanya, ’’bawalah matahari dan kehangatan ke tanah ini.’’

Sebuah suara menjawab bergemuruh, ’’Aku akan kabulkan, anakku.’’

Si turis berdoa lagi. ’’Bawalah kesejahteraan pada tanah ini.’’

’’Aku penuhi permintaanmu, anakku.’’

’’Dan ya Tuhanku, biarkan kaum Yahudi dan Arab hidup dalam kedamaian di tanah ini.’’

Suara itu menjawab, ’’Kamu sedang berbicara pada tembok.’’

 

Iklan Coca-cola

 Seorang salesman Coca-Cola baru saja kembali dari tugasnya di Timur Tengah. Dengan wajah yang sangat kecewa ia berhadapan dengan bossnya.

Si Boss bertanya “Kenapa kamu gagal mensukseskan penjualan di Arab?”

“Di awal sebenarnya saya sangat optimistis bisa menjual menjual produk kita…” kata si salesman. ‘’Tapi ada satu masalah: saya tidak mengerti bahasa Arab. Jadi saya memutuskan untuk mempromosikan produk ini melalui poster bergambar…,’’

‘’Ya, lantas?’’

‘’Poster pertama menggambarkan seorang pria yang sedang kehausan di tengah padang pasir; poster selanjutnya menggambarkan pria tersebut kemudian meminum Coca-Cola; dan poster terakhir menggambarkan pria tersebut akhirnya bangkit kembali dengan kondisi yang segar bugar. Kemudian tiga poster tersebut kami tempel di seluruh penjuru Arab.”

“Lho,  bukankah itu ide yang brilian? Tapi kenapa kamu masih gagal dalam menjual…?” tanya si Boss

Si Salesman menjawab “Bukan hanya saya tidak mengerti bahasa Arab, tapi saya juga tidak tahu bahwa orang Arab membaca dari kanan ke kiri.’’

 

Di Mana Tuhan?

Irfan dan Yoga adalah dua anak yang masih duduk di kelas tiga SD. Mereka terkenal nakal dan sering menjelajah keluar kelas di sekolah. Suatu kali mereka terlambat masuk ke kelas pelajara agama yang dipimpin oleh Pak Reza yang galak. Di luar kelas, mereka ragu-ragu memutuskan untuk masuk kelas atau tidak. Akhirnya, keduanya bersepakat untuk masuk dengan mengendap-endap secara bergiliran. Irfan dulu, dan kemudian kalau kondisi memungkinkan, Yoga akan mengikuti.

Sialnya, Pak Reza melihat saat Irfan mengendap masuk. ‘’IRFAN!!’’ suara lantang Pak Reza terdengar. Anak itu berhenti.

‘’Di manakah Tuhan?’’ kata Pak Reza dengan menatap tajam Irfan.

Anak itu kebingungan, tak tahu harus menjawab apa.

‘’Ayo nak, tahukah kamu di mana Tuhan berada?’’ kata Pak Reza lagi.

Mulut Irfan terkunci.

Pak Reza mendekat. Ia mengacungkan telunjuknya ke arah Irfan dan bertanya lagi: ‘’Ayo, Irfan, jawab pertanyaan Bapak, di manakah Tuhan berada?’’

Saat itu, Irfan merasa tak sanggup lagi bertahan. Ia berlari cepat meninggalkan kelas. Yoga yang menungu di luar segera ikut berlari. Sampai akhirnya mereka kehabisan tenaga dan berhenti. ‘’Ada apa? Ada apa?’’ tanya Yoga.

‘’Wah, parah betul!’’ jawab Irfan dengan wajah takut. ‘’Tuhan hilang dan guru menyangka kita yang mengambilnya!’’

 

Pintar, jujur dan pendukung Soeharto.

Di jaman Soeharto dulu, Presiden AS Bill Clinton pernah mengirim seorang utusan khusus untuk mempelajari masyarakat Indonesia. Si utusan ini datang melalui sebuah misi rahasia.

Seusai misinya, ia menghadap ke Clinton.

Kata Clinton, “Apa kesanmu tentang masyarakat Indonesia?”

“Menarik, menarik,” jawab si agen. “Dan yang paling penting yang saya catat adalah bahwa mereka itu adalah bangsa yang mendukung Soeharto, pintar, dan jujur.”

“Wah, hebat sekali…” ujar Clinton kagum.

“Walaupun,  memang tidak ada satupun yang memiliki seluruh sifat itu bersamaan.”

“Maksudmu?”

“Ya ada banyak Pendukung Soeharto dan pintar, tapi mereka tidak jujur,” jawabnya lagi. “Lalu ada banyak pendukung Soeharto dan jujur tapi mereka tidak pintar. Dan satu lagi … kalau pintar dan jujur, ya mereka tidak mendukung Soeharto.”

 

Otak Tertinggal

Suatu kali,  seorang pemuda Amerika mengalami kecelakaan fatal di Jepang. Dengan segera pemuda itu dibawa ke rumah sakit. Para dokter memutuskan untuk membedah bagian yang paling parah kondisinya: kepala. Karena kecanggihan metode kedokteran di sana, otak pemuda itu dapat dikeluarkan dari kepalanya untuk dioperasi secara terpisah. Malang tak dapat ditolak,  sebelum otak itu sempat dikembalikan ke kepala, terjadilah gempa bumi yang membuat para dokter dan suster melarikan diri keluar ruang bedah.

Hanya saja begitu ancaman gempa sudah lewat dan para dokter kembali, ternyata si pemuda sudah menghilang. Ia rupanya terbangun saat gempa dan juga melarikan diri keluar rumah sakit. Yang jadi masalah: otaknya masih tertinggal diruang bedah. Artinya ia sudah berjalan tanpa ada otak di kepalanya. Para dokter Jepang merasa bersalah, tapi tak ada lagi yang bisa dilakukan.

Beberapa puluh tahun kemudian salah seorang dokter itu sudah menjadi spesilias bedah terkemuka di Jepang.  Pada satu malam, ia menyaksikan acara berita internasional di layar televisi.  Ia tak pernah suka dengan berita politik, tapi kali itu tak ada acara lain yang menarik sehingga ia memilih menonton program itu, paling tidak untuk mengisi waktu.

Yang ditayangkan adalah hasil pemilu  Amerika Serikat.  Saat itulah, ia menyaksikan wajah yang ia kenal. Wajah itu sudah menua, tapi si dokter tahu persis bahwa itu adalah wajah pasien yang pergi tanpa otak. Wajah orang itu sangat bergembira. Dan yang paling mengejutkan si dokter adalah keterangan di bawah gambar pria itu: “George Bush, Presiden Terpilih Amerika Serikat”.

 

Tiga Lawan Kosong

Seseorang diajukan ke pengadilan karena kejahatan yang ia tak pernah lakukan.  Persidangannya menghadirkan tiga hakim.  Sebenarnya ia tak merasa bersalah, tapi tahu di Indonesia ini tak ada yang gratis. Karena itu, supaya aman, ia memberikan uang kepada dua hakim.  Nyatanya, hasil akhirnya adalah bahwa ia dibebaskan, dengan perbandingan suara: tiga lawan kosong.

Dengan sebal ia menggerutu “Sialan, kebanyakan membayar satu hakim!”

 

Tembak Semua

Perdana Menteri  Israel  Benyamin Netanyahu mendatangi kamp latihan militer tentaranya.

“Aaron apa yang kamu lakukan kalau kamu berada di garis depan dan bertemu dengan sejumlah pemberontak Palestina?’

“Saya tembak mereka semua, Pak!”

“Bagus, “ kata Netanyahu. “Sekarang, apa yang kamu lakukan kalau bertemu dengan satu batalion pasukan Arab.”

“Saya tembak semua, Pak!”

“Tetapi Aaron, kamu tidak bisa melakukan itu sendirian. Kamu harus bertempur sambil mundur dan mencari bantuan.”

“Terimakasih. Laksanakan!”

“Lalu, bagaimana kalau bertemu sapi milik orang Palestina”

“Saya tembak mereka semua, Pak!”

“Ya jangan dong, Aaron,” kata Netanahu agak kesal. “Kamu ikat tanduknya dan kamu seret sapi itu ke pangkalan militer.”

“Terimakasih. Laksanakan!”

“Sekarang, bagaimana kalau kamu bertemu saya di front!”

“Saya tembak mereka semua, Pak!”

“Kamu itu menjawab tapa berpikir,” kata Netanyahu. “Hayo pikirkan kembali baik-baik..”

“Oh, saya akan bertempur sambil mundur dan mencari bantuan…”

“Tolol, saya kan bukan musuh!”

“Oh saya, saya tahu, saya tahu,” kata si serdadu dengan wajah sumringah. “ Saya akan ikat tanduk Bapak dan menarik Bapak ke pangkalan”

 

Dua Kekeliruan

Pada era kejayan Shah Iran, di Teheran berdirilah sebuah patung yang sangat menawan. Di bawah patung itu tertera tulisan: Yang Mulia Shah Reza Pahlevi.

Si pematung membawa tamunya untuk menyaksikan karyanya itu.

Si tamu memuji, “Indah sekali .. tapi ada dua kekeliruan.”

“Apa?” tanya si pematung pemasaran.

“‘Pertama, seharusnya ada tulisan: ‘beristirahat dengan tenang’.”

“Lho, dia kan masih hidup?”.

“Itulah kekeliruan kedua.”

 

Doa Malam

Di era Saddam Huseein berkuasa, para ulama di sebuah desa Irak melantunkan doa yang sama setiap malam, seusai shalat Isya.  Doanya begini: “Ya Allah, Engkaulah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Berilah rezeki  yang cukup bagi janda-janda. Berilah perlindungan terhadap anak yatim. Berilah kesehatan kepaa yang sakit. Berilah tempat tinggal bagi para gelandangan. Dan kepada pemimpin agung Saddam Hussein, berilah ia kematian yang tenang.”

 

Uang Pengertian

Pimpinan HRD sebuah lembaga pemerintahan di Jakarta menerima lamaran kerja . Sebagaimana biasa,kepada pemuda yang melamar,  ia meminta uang pengertian sebesar Rp 5 juta. Si anak muda memohon-mohon agar uang sogokan itu diturunkan. Karena  terkesan dengan kepintaran si anak muda, ia memenuhi permintaan itu. Cukup dua juta, tidak perlu lima juta.

Belakangan ia tahu bahwa si anak muda itu ternyata bicara kepada orang lain bahwa ia harus membayar untuk bisa diterima kerja.

Ia panggil si pelamar. Tahu bahwa akan dimarahi, begitu datang ke ruangan, si anak muda  itu memohon maaf.

“Maaf Pak, saya betul-betul menyesal bahwa saya bercerita pada orang lain, api …”

“Tapi apa?”

“Sebenarnya saya menyatakan bahwa Bapak baik hati, bahwa Bapak meminta saya hanya membayar dua juta!”

“Justru itu yang saya masalahkan,” bentak si pimpinan, “kalau kamu bilang begitu, orang lain pun nanti akan membayar serendah itu!”

 

Permintaan

PM Netanyahu datang AS. Ia bertemu dalam jamuan makan malam dengan Presiden Obama.

Setelah berbasa-basi, Obama menganjak Netanyahu ke meja makan untuk mengambil makanan kecil.

Di meja, dengan sopan, Obama berkata: ‘Apa yang saya bisa tawarkan pada Anda?”

“Palestina”

 

Dua Map

Seorang wakil rakyat yang menjadi juru bicara partai di Indonesia datang ke gedung parlemen untuk menghadiri rapat pleno yang akan menghadirkan wakil pemerintah.  Asistennya menawarkan diri untuk membantu membawakan dua map yang dibawanya di tangan kanan dan di tangan kiri.

“Biar saja. Saya takut map-map ini nanti tertukar. Bisa celaka nanti..”

“Itu rancangan undang-undang yang baru, pak?” tanya si asisten ingin tahu.

“Bukan .. di map sebelah kiri, adalah argumen lengkap yang tidak bisa diubah tentang kenapa kita menolak kenaikan pajak yang diusulkan”

“Yang kanan?”

“Argumen lengkap yang tidak bisa diubah tentang kenapa kita menerima  kenaikan pajak yang diusulkan ..”

“Lho kenapa dua?”

“Masalahnya sampai sekarang kita belum tahu yang mau dibayar itu argumen yang menerima atau menolak …”

 

Terlalu Mahal

Seorang pedagang kecil di  Aceh ditangkap karena memaki-maki ndonesia. Karena kesalahannya itu, ia didenda dua juta rupiah.

“Ada lagi yang ingin Anda katakan,” kata hakim.

“Sebenarnya sih masih banyak, tapi kalau tarifnya segitu saya tidak sanggup,” kata si pedagang  sembari menggaruk-garuk kepalanya.

 

Saya Juga

Ini cerita soal Megawati ketika diundang ke AS. Kata istri Obama: “Tahukah anda bahwa suami saya memiliki keluarga di Indonesia.”

“Saya juga,” kata Mega dengan wajah tak tertarik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s