DISEWAKAN RUKAN/RUKO  3  LANTAI

SANGAT STRATEGIS

COCOK UNTUK TEMPAT USAHA/KANTOR

Website : KLIK DISINI!!!

This slideshow requires JavaScript.

Alamat : Jl H. Domang No. 25 Kebon Jeruk Jakarta Barat 11530

Hubungi : Ibu Kiki 021-5306473

Spesifikasi:

  1. LT : 212 m2
  2. LB : 500 m2
  3. Daya : 5500 Watt
  4. Kamar Mandi : 8
  5. Kamar Tidur: 6
  6. Carport
  7. Garasi 3 Mobil
  8. Jet pump dan PAM
  9. 1 Line telepon

Keunggulan : 

  1. Rumah Kondisi Baru
  2. Deket Alteri Permata Hijau
  3. Lt. 1 cukup 10 mobil
  4. 5 Menit ke Tol Kb. Jeruk
  5. 200m Jalur Busway Koridor 8 (Lebak Bulus-Harmoni)
  6. Bebas Banjir dan Aman
  7. Cocok untuk usaha/kantor/showroom dan sebagainya
  8. 15 menit ke ITC Permata Hijau
  9. Dekat Pasar, Masjid, dan sekolah (SMA 65, SMA 78, Kampus Binus Anggrek)

AAET is organizing the 2012 AAET ESTI Essay Competition for Young ASEAN Talent with Theme: Can Renewable Energy Save the World? The objective of the Essay Competition is to promote the awareness on building a Low Carbon Society for a sustainable ASEAN. Undergraduates, postgraduates and young engineers, architects, technologists, industrialist of ASEAN countries are invited to use their innovative ideas and analytical skills to compete for one of three ASEAN ESTI Essay Writing Prizes.

aaet 2013

Congratulation!!

 

Gambar

rank asia

Universitas Indonesia (UI) kembali dinobatkan sebagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia versi QS World University Rangkings 2013/2014. UI satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang masuk dalam 300 besar universitas terbaik dunia.

Berdasarkan penilaian yang dikeluarkan QS World University Ranking di periode tahun ini UI menempati urutan ke 309 dengan skor 39,40. Selain UI, beberapa perguruan tinggi di Indonesia yang berada dalam pemeringkatan QS World University Ranking adalah Institut Teknologi Bandung (ITB) di peringkat 461-470 , Universitas Gadjah Mada (UGM) di peringkat 501-550, Universitas Airlangga (Unair) di peringkat 701, Institut Pertanian Bogor (IPB) di peringkat 701, Universitas Diponegoro (Undip) di peringkat 701, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di peringkat 701 dan Universitas Brawijaya di peringkat 701. Dalam daftar QS World Rangkings tahun ini 10 peringkat teratas masih dipegang oleh universitas yang berada di Amerika Serikat (AS) dan Inggris. Peringkat pertama dipegang oleh Institut Teknologi Massachusetts diikuti oleh Universitas Harvard.

Ada enam indikator yang menjadi penilaian dalam pemeringkatan QS kali ini, yaitu reputasi akademik (academic reputation), reputasi pegawai (employer reputation), rasio mahasiswa di tiap fakultas (faculty students), jumlah citation per fakultas (citations per faculty), serta jumlah mahasiswa internasional (international students) dan pengajar internasional (international faculty). UI mendapat skor 48.80 untuk reputasi akademik, 67, 40 untuk reputasi pegawai, 56.30 untuk rasio mahasiswa di tiap fakultas, jumlah citation per fakultas 1.50, jumlah mahasiswa internasional 4.40, dan pengajar internasional 24.80.

Lembaga itu menggunakan sejumlah kriteria, antara lain pencantuman institusi, reputasi akademik, mahasiswa dan fakultas internasional, indikator data, serta bobot dan pengumpulan penghargaan per fakultas. Adapun Kabid Humas dan Protokoler UGM Suryo Baskoro menyoroti masalah penurunan peringkat perguruan tinggi di Indonesia. Tren penurunan peringkat dialami merata oleh semua perguruan tinggi di Indonesia. “Semua perguruan tinggi di Indonesia mengalami penurunan. Sebabnya, saya kira, karena percepatan peningkatan kualitas perguruan tinggi di Indonesia yang tidak secepat luar negeri. Itu karena keterbatasan pendanaan dari pemerintah,” ungkap Suryo. Suryo melihat penurunan peringkat utamanya disebabkan alokasi anggaran nasional untuk sektor pendidikan baru 20 persen APBN. “Di negara tetangga kita alokasinya sudah mencapai 29 persen,”tuturnya.

Rektor ITB Akhmaloka mengungkapkan bahwa peringkat bagi ITB bukan suatu tujuan karena itu hanya sebuah indikator. ITB lebih fokus pada upaya perbaikan proses belajar mengajar. “Bukan memperbaiki ranking. Jika proses belajar mengajar tidak baik, otomatis orang akan melihat bahwa kualitas ITB tidak baik,”ujarnya. Akhmaloka mengatakan, jika dilihat universitas secara umum, ITB pasti menduduki peringkat terbawah. Hal itu lantaran ITB bukan universitas komprehensif yang memiliki semua jurusan. “Tapi jika ITB dilihat dari bidang teknologi, ranking yang dimiliki pada peringkat dunia adalah 346, tetap yg terbaik di Indonesia.

Kalau ingin info berapa biaya studi diluar negeri silakan klik disini

 

Sumber : Dikutip dan diringkas dari berbagai sumber dengan pengubahan seperlunya.

Lampiran :  ranking asia dan ranking dunia 2013

pimnas

Nomor : 2811/E5.3/KPM/2013 5 September 2013
Lampiran : 1 (satu) berkas
Perihal : Penerimaan Proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Tahun 2013 pendanaan Tahun 2014
Kepada Yth :

1. Rektor/Ketua/Direktur Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta,
2. Koordinator Kopertis Wilayah I s.d XII di seluruh Indonesia.
Bersama ini dengan hormat kami sampaikan bahwa, Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi memberi kesempatan kepada mahasiswa perguruan tinggi negeri maupun swasta untuk mengajukan usulan proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 5 bidang  yaitu : PKM-P, PKM-M, PKM-K, PKM-T dan PKM-KC yang akan didanai tahun 2014 dengan pedoman yang bisa diunduh disini.
Perlu kami informasikan bahwa pengajuan usulan proposal dan tata cara pengiriman proposal On-Line ke Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Ditlitabmas) mengikuti Panduan PKM Tahun 2013 (terlampir) yang dapat diunduh pada website http://dikti.go.id dan http://simlitabmas.dikti.go.id, dengan headline : Usulan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2013.

Sehubungan hal tersebut di atas, kami mohon agar Saudara berkenan menginformasikan program dimaksud kepada mahasiswa di lingkungan Perguruan Tinggi Saudara, sebagai berikut.

  1. Pendaftaran dilakukan Oleh Staf bagian Kemahasiswaan Perguruan Tinggi dengan alamat http://simlitabmas.dikti.go.id
  2. Pengunggahan dokumen dilakukan oleh mahasiswa setelah proses pendaftaran yang dilakukan selesai.
  3. Batas waktu Pendaftaran dan pengunggahan dokumen usulan on-line sampai dengan 31 Oktober 2013. Apabila lewat dari batas waktu yang telah ditentukan, maka proses pendaftaran dan pengunggahan tidak dapat dilakukan.
  4. Ditlitabmas tidak menerima Proposal Usulan dalam bentuk hardcopy (dokumen tersebut disimpan di Perguruan Tinggi pengusul untuk keperluan administrasi).

Atas perhatian dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih.

Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat,

ttd

Agus Subekti

NIP. 19600801 198403 1 002

 

Tembusan Yth.:
1. Dirjen Pendidikan Tinggi (sebagai laporan)
2. Wakil/Pembantu Rektor/Ketua/Direktur Bidang Kemahasiswaan PTN dan PTS
3. Sekretaris Pelaksana Kopertis Wil I s/d XIII

 

 

Pengumuman PKM Lolos PIMNAS-26 Mataram

Posted: September 2, 2013 in Akademik

pimnas

Kepada Yth : Rektor/ Ketua/ Direktur Perguruan Tinggi Negeri/Swasta di

Tempat

Dengan hormat kami sampaikan bahwa sesuai hasil  evaluasi  Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) telah ditetapkan SK Dirjen Dikti Nomor  59/DIKTI/Kep/2013 tanggal 27 September 2013 tentang Penetapan Peserta Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) XXVI Tahun 2013 di Universitas Mataram. PIMNAS XXVI tahun 2013 akan diselenggarakan pada :

  • Hari/tanggal : Senin s.d. Jum’at, 09 – 13 September 2013
  • Registrasi : Senin, 09 September 2013 pukul 07.00 – 22.00 WITA
  • Tempat : Sekretariat PIMNAS XXVI 2013,Kampus UNRAM, Nusa Tenggara Barat
  • Pembukaan : Selasa, 10 September 2013 pukul 07.00 – 11.00 WITA
  • Tempat : Auditorium Kampus UNRAM

selanjutnya mohon kesediaan Saudara untuk menyampaikan kepada para mahasiswa peserta PIMNAS dari Perguruan Tinggi Saudara sebagaimana daftar terlampir untuk melakukan registrasi dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Registrasi on-line mulai tanggal 28 Agustus 2013 melalui WEB PIMNAS :

http://reg.pimnas26.unram.ac.id

2. Registrasi on desk tanggal 09 September 2013 di Sekretariat PIMNAS Kampus UNRAM, mulai pukul 07.00 WITA

Pada saat registrasi on desk setiap kelompok PKM menyiapkan kelengkapan sebagai berikut :

  • a. foto berwarna ukuran 4×6 sebanyak 2 (dua) lembar;
  • b. soft file powerpoint bahan presentasi;
  • c. membawa poster PKM yang akan dinilai;
  • d. membawa produk hasil kegiatan PKM;
  • e. memakai jaket almamater;
  • f. membawa surat tugas dari perguruan tinggi yang bersangkutan;
  • g. membawa kartu mahasiswa;
  • h. SPPD PIMNAS yang sudah di tandatangani pejabat Perguruan Tinggi yg bersangkutan; dan
  • i. foto Copy tiket PP dan Boarding Pass bagi yang menggunakan Transportasi udara.

3. Setiap kelompok PKM diwajibkan mengunggah :

  • a. Artikel dalam format word yang siap untuk dipublikasikan dengan tata cara penulisan mengikuti lampiran 11 Panduan Monitoring dan Evaluasi Program Kreativitas Mahasiswa Tahun 2013 dan
  • b. Soft copy poster dalam bentuk JPG/GIF/PNG,

paling lambat tanggal 7 September 2013 ke http://simlitabmas.dikti.go.id dengan menggunakan user dan password ketua kelompok PKM (ukuran file maksimal 5 Mbyte).

4. Technical Meeting dengan dewan juri tanggal 09 September 2013 pukul 14.30 – 16.30 WITA di Auditorium, Kampus UNRAM

5. Welcome Party tanggal 09 Juli 2013 pukul 19.00 – 21.00 WITA di Pendopo Gubernur Provinsi NTB

6. Acara pembukaan di laksanakan pada tanggal 10 September 2013 pukul 07.00 – 11.00  di Auditorium Kampus UNRAM

Panitia akan membiayai transport darat bagi peserta dari Mataram; pesawat udara kelas ekonomi dengan ketentuan

  • 1. bagi  peserta  dari  pulau  Jawa  dan  Bali  biaya  pergantian  maksimum Rp. 1.500.000,-
  • 2. bagi peserta luar Jawa dan Bali biaya pergantian maksimum Rp. 2.500.000.

Akomodasi  dan  transportasi  yang  dibiayai  bagi  setiap  kelompok  PKM (–P,-M,-K,-T, -KC) maksimal 3 (tiga) orang dan kelompok PKM GT Maksimal 2 (dua) orang.

Bagi  peserta  tambahan (yang tidak dibiayai) harus  menyertakan  bukti  transfer  kepada  panitia UNRAM tentang pembayaran akomodasi + konsumsi atas nama mahasiswa yang bersangkutan.

Demikian untuk diketahui dan atas perhatian Saudara kami sampaikan terima kasih.

Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

ttd

Agus Subekti
NIP. 196008011984031002

lampiran File:

1.Undangan Peserta PIMNAS XXVI 2013

2.Daftar Peserta PIMNAS XXVI 2013

Berdasarkan surat dari Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat No. 1098/E5.3/KPM/2013 tanggal 24 April 2013 tentang Pelaksanaan PIMNAS ke XXVI Tahun 2013, dengan ini kami beritahukan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Monitoring dan Evaluasi (MONEV) PKM 5 Bidang oleh Dikti akan dilaksanakan antara minggu pertama sampai minggu ke tiga bulan Juli 2013.
  2. Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke XXVI akan diselenggarakan pada tanggal 10-13 September 2013 di Universitas Mataram Nusa Tenggara Barat.

Surat-PIMNAS_2_page1_image1

Sampah memiliki potensi untuk memberi sumbangan terhadap meningkatnya emisi gas rumah kaca, peristiwa ini terjadi pada penumpukan sampah tanpa diolah yang melepaskan gas metan/methane (CH4). Manusia dalam setiap kegiatannya hampir selalu menghasilkan sampah. Sampah memiliki daya dukung yang besar terhadap emisi gas rumah kaca yaitu gas metan (CH4). Setiap 1 ton sampah padat menghasilkan 50 kg gas CH4. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang terus meningkat, diperkirakan pada tahun 2020 sampah yang dihasilkan sekitar 500 juta ton/hari atau 190 ribu ton/tahun. Hal ini berarti pada tahun tersebut Indonesia akan mengemisikan gas CH4 ke atmosfer sebanyak 9500 ton. Dari uraian tersebut menunjukkan bahwa sampah adalah salah satu penyumbang gas rumah kaca dalam bentuk CH4. Hal ini terjadi utamanya pada pembuangan sampah terbuka di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) mengakibatkan sampah organik yang tertimbun mengalami dekomposisi secara anaerobik. Proses itu menghasilkan gas CH4 (methane). Dengan metode regresi linear 2 variabel, diperoleh konstanta untuk menghitung nilai produksi gas methana yang terbentuk untuk setiap tahun produksi sampah (ton). Lebih lanjut, setelah ditemukan persamaan ini maka dapat diestimasi pembentukan produksi gas methana di tahun-tahun yang akan datang secara linear. Kemudian, dilakukan prediksi jumlah kandungan CO2 yang terbentuk dari produksi sampah di TPA. Potensi pembentukan gas CO2 ini akan memengaruhi pembentukan gas rumah kaca. Pembentukan gas rumah kaca dapat dicegah dengan mereduksi gas CH4 dan pembakaran melalui pemanfaatan kompos dan biogas.

POTENSI PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA MELALUI PENGOMPOSAN SAMPAH

Gas rumah kaca (GRK) adalah istilah kolektif  untuk gas-gas yang memiliki efek rumah kaca, seperti klorofluorokarbon (CFC), karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitrogen oksida (NOx), ozon (O3) dan uap air (H2O). Beberapa gas tersebut memiliki efek rumah kaca lebih besar daripada gas lainnya. Sebagai contoh, metana memiliki efek 20-30 kali lebih besar dibanding dengan karbon dioksida, dan CFC diperkirakan memiliki efek rumah kaca 1000 kali lebih kuat dibanding dengan karbon dioksida (Porteous, 1992). Gas metana berkontribusi 15-20 persen terhadap efek rumah kaca, dan oleh karena itu pengaruh ini tidak dapat diabaikan. Sumber-sumber metana mencakup lahan persawahan, peternakan sapi, industri minyak dan gas, serta tempat-tempat pembuangan sampah (TPA). Karena besarnya efek rumah kaca gas metana, usaha-usaha penanggulangannya seharusnya diarahkan kepada pengendalian sumber-sumber emisi metana tersebut.

Pengomposan merupakan alternatif pemecahan masalah manajemen sampah. Pengomposan adalah suatu proses biologis dimana bahan organic didegradasi pada kondisi aerobik terkendali. Dekomposisi dan transformasi tersebut dilakukan oleh bakteri, fungi dan mikroorganisme lainnya. Pada kondisi optimum, pengomposan dapat mereduksi volume bahan baku sebesar 50-70 %.  Sebagai ilustrasi, 1000 ton sampah dapat dikonversi menjadi 400-500 kompos yang siap untuk digunakan/dipasarkan pada gambar berikut.

sampah 3

Gambar 1.  Diagram pembagian komposis persentase sampah yang ada di Jabotabek (data bank sampah dinas kebersihan daerah Jabotabek)

Nilai daur-ulang jenis sampah kering sebesar 10,3% dari total sampah kota bukan merupakan tingkat yang signifikan. Oleh karenanya, upaya reduksi dan pemanfaatan sampah kota perlu difokuskan pula pada sampah basah, yang dominan jumlahnya dalam sampah kota. Dengan menggunakan nilai recovery factor potensial sebesar 0,80 (Tchobanoglous, Theisen and Vigil, 1993) untuk pemanfaatannya sebagai bahan baku kompos, sebanyak 1251,4 ton sampah basah dapat direduksi setiap harinya (Tabel 4). Jumlah ini dapat mengurangi timbulan sampah kota sebanyak 1473,3 ton (68,3%), dan meninggalkan 684,4 ton residu (31,7%) untuk diangkut ke TPA. Apabila strategi reduksi sampah basah maupun sampah kering dapat dilakukan dengan baik, maka selain diperoleh materi daur-ulang yang bemanfaat, juga kebutuhan biaya penanganan sampah dan kebutuhan lahan TPA dapat dikurangi secara signifikan.

Perlu ditambahkan, bahwa daur ulang sampah memberikan keuntungan-keuntungan sebagai berikut, sebagaimana diuraikan dalam USEPA (2006):

  • menghemat penggunaan sumber daya alam
  • mengurangi emisi gas-gas pencemar udara dan polutan lain
  • menghemat penggunaan energi
  • menyediakan bahan baku untuk industri
  • menyediakan lapangan kerja
  • menstimulasi perkembangan teknologi ramah lingkungan
  • mengurangi kebutuhan akan lahan TPA dan insinerator

Tabel 1. Material balance sampah kota dengan memperhitungkan potensi reduksinya di Jabotabek

Komponen sampah

%

Timbulan

(ton/hari)

Recovery factor (%)

Laju reduksi (ton/hari)

Jumlah residu sampah

(ton/hari)

Sampah basah

72,41

1564,2

80*

1251,4

312,8

Plastik

10,09

217,9

50

109,0

221,9

109,0

Kertas

7,26

156,8

40

62,7

94,1

Gelas/kaca

1,70

36,7

70

25,7

11,0

Logam

1,41

30,6

80

24,5

6,1

Kayu

2,39

51,6

0

0

51,6

Tekstil

2,68

57,9

0

0

57,9

Karet

0,46

9,9

0

0

9,9

Sampah lain

1,48

32,0

0

0

32,0

Jumlah total

100.00

2157,7

 

1473,3

684,4

Prosentasi (% )

68,3

31,7

* Nilai potensial, menurut Tchobanoglous, Theisen and Vigil (1993)

Khusus sampah plastik, kegiatan daur ulangnya dapat mengurangi dampak lingkungan yang sangat signifikan. Dalam proses produksi plastik, dibutuhkan sumber daya alam berupa minyak bumi yang sangat besar jumlahnya, baik sebagai bahan baku, maupun sebagai energi untuk proses manufaktur. Produksi setiap ton plastik jenis polietilen membutuhkan 1,8 ton minyak bumi. Setiap tahunnya, sekitar 4% minyak bumi dunia digunakan sebagai bahan baku plastik, dan 3-4% digunakan untuk sumber energi dalam proses manufaktur plastik. Sebagaimana dijelaskan dalam Anonymous (2006), daur ulang sampah plastik akan menghasilkan dampak lingkungan positif sebagai berikut:

  1. mereduksi 67% konsumsi energi
  2. menurunkan 250% emisi CO, 67% emisi SOx, dan 50% emisi NOx
  3. mengurangi penggunaan air sebanyak 90%

Kompos memiliki tekstur dan bau seperti tanah. Kompos dapat meningkatkan kandungan  bahan organik dan nutrien, serta memperbaiki  tekstur dan kemampuan untuk mempertahankan kelembaban tanah. Kompos dapat diaplikasikan untuk pertamanan, pengendalian erosi, dan kondi-sioner tanah kebun, pembibitan, dan lapangan golf. Potensi pasar terbesar bagi kompos adalah sektor pertanian, penimbunan atau reklamasi, pertamanan, dan ekspor (misalnya ke negara-negara timur tengah). Sunyoto (2001) melaporkan bahwa potensi permintaan terhadap kompos mencapai 11 juta ton per tahun. Beberapa keuntungan lain pengomposan sampah adalah perbaikan manajemen lingkungan, terutama di daerah padat penduduk. Bisnis pengom-posan yang ekstensif juga dapat menyerap tenaga kerja. Keuntungan pengomposan sampah yang lebih bersifat lokal adalah penurunan jumlah sampah yang harus diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), yang dapat mencemari saluran air atau air tanah, serta menjadi sarang penyakit. Jumlah kebu-tuhan lahan untuk pembuangan sampah juga akan berkurang jika lebih banyak sampah yang dikompos-kan. Kualitas udara akan meningkat, karena lebih sedikit bahan organik basah yang ditumpuk diping-gir jalan atau di tanah kosong. Keuntungan pengom-posan sampah dibanding dengan landfill/open dumping. Untuk mengkuantifikasi proses pembuatan kompos, diperkenalkan suatu perancangan mesin penghancur sampah organik dengan spesifikasi sebagai berikut:

  • Kapasitas : 50 kg / jam
  • Power : 8 HP
  • Dimensi mesin : 90x80x115 cm
  • Cutting size : 10 mm
  • Bahan : plat mild steel

Keunggulan,

  1. dapat di bongkar pasang (tersusun atas 4 bagian) jadi dapat dirakit ditempat (bagian imput, pisau penghancur, output, compactornya)
  2. dapat portable,
  3. mudah dibersihkan dan maintainability
  4. Independent blade  pisau penghancurnya,
  5. Tersedia 2 pisau dengan tujuan ukuran potongan sampah kecil-kecil dan tidak membutuhkan daya penggerak  tambahan.
  6. Dilengkapi compactor berupa hidrolik agar sampah menjadi kering dan padat agar bisa langsung diolah
  7. Bisa untuk semua jenis sampah platik dan organik

a1

Gambar 2.  Mesin pencacah sampah dan pengering sampah berbasis compactor untuk sampah organik untuk diproses menjadi kompos (Ali, 2012)

Produksi Sampah Wilayah DKI Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek) merupakan wilayah yang paling tinggi konsentrasi penduduknya di Indonesia. Jumlah penduduk di DKI Jakarta sebagai pusat wilayah tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 2,4  % per tahun, bahkan di wilayah sekitarnya pertumbuhan penduduk lebih tinggi. Berbagai perkiraan menyebutkan bahwa pada tahun 2005 jumlah penduduk di Jabotabek akan mencapai sekitar 26 juta jiwa, dan di Jakarta saja mencapai 13 juta jiwa. Jakarta saat ini  berpenduduk terdaftar sebanyak 8 juta dan sekitar 4 juta orang pulang-pergi bekerja di Jakarta. Jika penduduk tidak terdaftar juga diperhitungkan, ada sekitar 14 juta jiwa tinggal di Jakarta. Volume produksi sampah dapat diperkirakan dari jumlah penduduk dan produksi sampah spesifik. Dari studi ini teridentifikasi bahwa rata-rata produksi sampah spesifik di Jabotabek adalah 0,6 kg/orang.hari atau 214 kg/orang.tahun. Akan tetapi harus dimengerti juga bahwa nilai tersebut bervariasi dari masyarakat satu ke yang lainnya, dari musim ke musim, dan metode yang digunakan untuk menentu-kan laju produksi sampah. Hampir separoh sampah (40-50%) diproduksi di Jakarta, walaupun area untuk pembuangan sampahnya sangat terbatas. Dengan menggunakan teknik estimasi runtun waktu berdasarkan pada data tahun 1997-2001 diperoleh hasil perkiraan produksi sampah seperti disajikan pada Gambar 5 dan 6. Seperti terlihat pada gambar tersebut, laju perkembangan produksi sampah di Jakarta jauh lebih tinggi dibandingkan dengan laju produksi sampah di daerah sekitarnya.

Karakteristik Sampah

Tabel 2  menunjukkan komposisi sampah yang dihasilkan di daerah kajian. Terlihat dari tabel tersebut bahwa porsi bahan organik dalam sampah sangat tinggi, yaitu mencapai 60-65 %.  Bahan “anorganik” mencakup kertas, kayu, karet, plastik, logam dan gelas. Kandungan kertas dan plastik men-capai 20 % dari limbah tersebut. Variasi komposisi sampah mungkin terjadi terutama karena kondisi sosial, tingkat pendapatan perkapita, tingkat urbani-sasi dan industrialisasi, pola makan, dan iklim.

Tabel 2.  Komposisi persentase jenis sampah terhadap total sampah yang terbentuk di Jabotabek.

sampah 4

Manajemen sampah merupakan isu yang menonjol di Jabotabek. Sampah yang dihasilkan di wilayah ini umumnya dikumpulkan tanpa dipilah dari rumah tangga dengan gerobak kecil dan diangkut ke tempat penampungan sementara (TPS), kemudian dari TPS diangkut ke tempat penimbunan akhir (TPA) dengan truk. TPA yang ada saat ini pada dasarnya dioperasikan dengan sistem open dumping yang memungkinkan bahan organik terdekomposisi secara anaerobik. Sekitar 20-40 % sampah di wilayah studi tidak diangkut ke TPA, tetapi ditimbun di sekitar penghasil sampah, dibakar, dibuang di tanah kosong atau ke sungai atau saluran air.Pemerintah daerah berpendapat bahwa pola manejemen sampah yang ada saat ini tidak bersifat sinambung, dan perlu dicarikan alternatif pemecah-annya. Manajemen sampah menjadi tantangan ter-besar bagi pemerintah daerah di Jabotabek, karena semakin terbatasnya ketersediaan lahan untuk tempat pembuangan sampah.  Oleh karena itu, pengembangan manajemen sampah yang efektif dan sinambung menjadi prioritas bagi pemerintah daerah di Jabotabek.  Karena tingginya kandungan bahan organik dalam sampah,  pengomposan sampah dianggap sebagai solusi yang layak secara teknis untuk memperbaiki manajemen sampah yang ada saat ini.

Proses konversi biologis dapat dicapai dengan cara digestion secara anaerobik (biogas) atau tanah urug (landfill). Biogas adalah teknologi konversi biomassa (sampah) menjadi gas dengan bantuan mikroba anaerob. Proses biogas menghasilkan gas yang kaya akan methane dan slurry. Gas methane dapat digunakan untuk berbagai sistem pembangkitan energi sedangkan slurry dapat digunakan sebagai kompos. Produk dari digester tersebut berupa gas methane yang dapat dibakar dengan nilai kalor sekitar 6500 kJ/Nm3.

Landfill ialah pengelolaan sampah dengan cara menimbunnya di dalam tanah. Di dalam lahan landfill, limbah organik akan didekomposisi oleh mikroba dalam tanah menjadi senyawa-senyawa gas dan cair. Senyawa-senyawa ini berinteraksi dengan air yang dikandung oleh limbah dan air hujan yang masuk ke dalam tanah dan membentuk bahan cair yang disebut lindi (leachate). Jika landfill tidak didesain dengan baik, leachate akan mencemari tanah dan masuk ke dalam badan-badan air di dalam tanah. Karena itu, tanah di landfill harus mempunya permeabilitas yang rendah. Aktifias mikroba dalam landfill menghasilkan gas CH4 dan CO2 (pada tahap awal – proses aerobik) dan menghasilkan gas methane (pada proses anaerobiknya). Gas landfill tersebut mempunyai nilai kalor sekitar 450-540 Btu/scf. Sistem pengambilan gas hasil biasanya terdiri dari sejumlah sumur-sumur dalam pipa-pipa yang dipasang lateral dan dihubungkan dengan pompa vakum sentral. Selain itu terdapat juga sistem pengambilan gas dengan pompa desentralisasi.

Estimasi Emisi Metana di TPA Menggunakan Metode Komputasi Teknik

1. Analisis Permasalahan

Bahan organik dari sampah akan terdekomposisi secara anaerobik menjadi metana (CH4), karbon dioxida (CO2), dan sejumlah kecil N2, H2, H2S,  H2O (Morissoy and John, 1998). Pada kondisi anaerobik (reaksi yang terjadi di dalam landfill), sebagai contoh satu mol glukosa dikonversi menjadi tiga mol metana. Untuk mengestimasi jumlah potensi pembentukan gas methane di TPA/landfill, digunakan model dari percobaan menggunakan  sludge sering digunakan untuk menduga produksi gas (ATV, 1989):

Gt= (a.Co.(0,014.T+0,28)) . (1 – 10–k . tdalam m3 gas/ton sampah

dimana:

  1. Co       =   produksi gas spesifik rata-rata (m3/ton)
  2. T          =   temperatur (oC)
  3. a          =   konstanta sebagai bilangan tak berdimensi
  4. Gt        =   volume gas yang terbentuk m3 gas/ton sampah sampai waktu t tahun
  5. K         =   konstanta degradasi (untuk landfill 0,03 – 0,06)
  6. t           =   waktu (tahun)

2. Data dan asumsi yang digunakan

  1. Dalam kondisi riil proses dekomposisi sampah, proses stabilisasi sampah di landfill/TPA untuk proses pembentukan gas terjadi dalam kurun waktu panjang, yakni t sekitar  30 tahun tetapi lama waktu ini dapat lebih pendek pada kondisi sampah basah atau lebih panjang pada kondisi sampah kering.
  2. Jumlah pembentukan karbon organik dari TPA di daerah Jabotabek dapat diestimasi:
  • a) nilai produksi gas spesifik rata-rata 0,235 m3CH4/kg sampah (ATV, 1989).
  • b) Jika 80 % sampah di Jabotabek dibuang ke TPA dalam satu hari terjadi pembuangan 680 ton sampah, berarti yang dibuang ke TPA sekitar 544 ton. Dalam waktu 30 tahun akan terjadi penumpukan sampah 5.956.800 ton sampah.
  • c) jumlah pembentukan gas spesifik rata-rata untuk methane adalah 0.235*5.956.800.000 = 1.399.848.000 m3 = 1.399.848 m3 untuk setiap ton.
  • Temperatur rata-rata perhari untuk kondisi landfill di TPA Jabotabek 40°Celcius.
  • Konstanta degradasi untuk landfill adalah 0,05.

3. Hasil dan Pembahasan

Untuk menghitung volume gas methana yang terbentuk, kita perlu mengetahu nilai konstanta a yang dapat digunakan untuk menghitung dan menentukan persamaan empiris berlaku umum untuk  setiap produksi sampah, maka dengan data yang diketahui,

Gt = (a. Co. (0,014.38+0.28)) . (1-10-0.5. 30

ada 2 fungsi diatas, yakni Gt dan Co terhadap nilai a. Dengan nilai Gt dalam suatu pengukuran selama 1 tahun dari dinas kebersihan DKI diperoleh :

Produksi sampah total Jabotabek (ton/bulan ke) jumlah pembentukan gas spesifik rata-rata untuk methane  (m3/kg) jumlah volume gas methana (m3/tahun) 
13141 3088095.833 4684.07317
22320 5245130.773 7955.898278
32364 7605439.621 11536.0525
46927 11027887.45 16727.27613
68044 15990436.8 24254.55039
98664 23186133.36 35169.09806
143063 33619893.38 50995.19219
207442 48748845.4 73943.02868
300791 70685825.83 107217.3916
436147 102494447.4 155465.2178
632413 148616948.8 225424.5658
916998 215494575.8 326865.6204

Dengan menggunakan metode least-square diperoleh nilai a = 1.868

Maka, jumlah volume gas methana yang terbentuk berdasarkan jumlah produksi sampah pada setiap tahun berdasarkan nilai produksi sampah perhari 680 ton sampah adalah

Gt = (1.868. 1.399.848. (0,014.38+0.28)) . (1-10-0.5. 30= 2.123.311,844 m3 untuk setiap 30 tahun

Maka, sebanyak 70.777,06 ton metana pertahun akan terbentuk di TPA. Jumlah produksi metana ini akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan jumlah produksi sampah. Pada tahun 2015, di Jabotabek diperkirakan akan dihasilkan sebanyak 205.616,7 ton methana.

Untuk mengetahui bagaimana pengaruh pembentukan gas methana berpengaruh terhadap pembentukan gas rumah kaca adalah dengan emisi metana dikonversi ke dalam bentuk emisi karbondioksida dengan mengalikannya dengan faktor 24,5 (Yusrizal, 2000), yakni

Emisi CO2 =  Emisi CH4 (ton CH4/tahun) x 24,5 (ton CO2/tahun)     dalam CO2/ton CH4 

Sehingga, jumlah emisi karbon dioksida untuk setiap ton produksi sampah di TPA pertahun total daerah Jabotabek adalah

sampah 6

 sampah 1 sampah 2

Program untuk menjalankan Efek Gas Rumah Kaca terhadap Produksi Sampah di TPA Jabotabek

real :: a, b, c, d

print*, “Silakan masukkan total produksi sampah setiap tahun”
read*, a
b = (1,868*(0.8*0,235*a*365*1000)*((0,014*40)+0,28))*(1–10^-0.5*30)

c = (1,868*(0.8*0,235*a*365*1000)*((0,014*40)+0,28))*(1–10^-0.5*30)*24.5

d = (1,868*(0.8*0,235*a*365*1000)*((0,014*40)+0,28))*(1–10^-0.5*30)*0.0005547

e = (1,868*(0.8*0,235*a*365*1000)*((0,014*40)+0,28))*(1–10^-0.5*30)*0.00198

print*, “Nilai Produksi Gas CH4 terhadap produksi sampah (CH4/ton ”
print*, “NPG CH4=”, b

print*, “Nilai Produksi Gas CO2 terhadap produksi sampah (CO2/ton CH4)”
print*, “NPG CO2=”, c

print*, “Nilai produksi kompos (dalam ton/tahun)”
print*, “Produksi Kompos=”, d

print*, “Nilai Produksi Gas CO2 yang dapat dicegah (dalam ton/tahun)”
print*, “Pencegahan=”, e

stop

end

A. Pendahuluan

Sesuai dengan data dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan kota Depok, rata-rata timbulan sampah di seluruh kota Depok berkisar antara 3500 sampai 4000 m3/hari. Sementara, kapasitas angkut pelayanan hanya sekitar 35 persen atau hanya tersedia 54 truk sampah dan sekitar 250 orang sumber daya manusia. Selain itu, diperkirakan TPA Cipayung hanya bisa menampung sampah se-kota Depok sampai tahun 2013. Permasalahan tentang sampah ini memang belum pernah terpecahkan dan sudah menjadi masalah bulanan bahkan tahunan. Masalah sampah ini juga dapat menyebabkan masalah lain yaitu banjir. Karena sampah yang tidak tertampung di TPA akhirnya akan terbuang sembarangan dan menyebabkan tersumbatnya selokan dan waduk. Pada tahun 2011 tercatat di Jabodetabek, terdapat 18 waduk yang sudah tidak berfungsi dan 50 persen dari waduk yang ada bekerja secara tidak optimal.

Walaupun sudah banyak solusi yang digagas untuk menanggulangi masalah sampah ini, belum ada yang dapat mengatasi masalah ini secara signifikan. Program-program pemerintah untuk  menanggulangi masalah sampah sangatlah pasif. Program-program pemerintah masih banyak yang belum terlaksana dengan baik karena tidak ada tindak lanjut pada beberapa program. Seperti program pembelajaran cara penanganan sampah di Jepang, sampai sekarang masih belum ada aplikasi untuk mengatasi sampah secara nyata. Namun, terdapat  juga program pemerintah yang terhambat karena tidak adanya kerja sama dari masyarkat itu sendiri. Seperti rencana pembangunan 60 UPS (unit pengolahan sampah)pada tahun 2007 sampai 2011 di kota Depok, namun sampai sekarang hanya ada 20 UPS, dikarenakan kurangnya sosialisasi ditambah lagi 57 persen masyarakat tidak setuju diwilayahnya dibangun UPS karena menganggap akan menimbulkan bau busuk dan lingkungan kotor. Upaya penanggulangan sampah juga dilakukan oleh sebagian masyarakat seperti Yayasan Depok Hijau atau Bank Sampah Anorganik.

Mengacu pada undang-undang tahun 2008 No.18 dan peraturan pemerintah tahun 2012 No.81 yang mewajibkan pengelolahan sampah kawasan komersial, penulis mengajukan suatu ide untuk mengelola sampah organik tidak hanya untuk kawasan komersial, tetapi juga kawasan permukiman.

B. PERANCANGAN

PEMANFAATAN SAMPAH ORGANIK RUMAH TANGGA DAN PERTANIAN UNTUK DIOLAH MENJADI BIOETANOL SEBAGAI BAHAN BAKAR

1. Latar Belakang
Saat ini bioetanol yang dihasilkan menggunakan bahan pangan sebagai bahan dasar seperti ubi kayu, tebu, jagung, nipah dan lain-lain. Namun dari bahan baku tersebut dapat mengakibatkan kerisis pangan dalam negeri karena dalam pembuatan bioetanol membutuhkan bahan dasar dalam jumlah yang banyak. Untuk itu perlu adanya bahan dasar pengganti, yang tidak beresiko pada krisis ketahanan pangan seperti pemanfaatan limbah organik. Selama ini limbah organik  di lingkungan rumah tangga,  restaurant, pasar baik yang ada di perkotaan maupun di pedesaan setiap hari semakin meningkat. Menurut data Dinas Kebersihan Pemda DKI Jakarta tahun 2000, setiap hari timbunan sampah Jakarta mencapai 25.650 meter kubik, yang terangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA) sekitar 22.500 meter kubik. Sisanya, 3.150 meter kubik perhari tidak terangkut ke TPA (Direktur UNESCO, 2002).
Data tahun 2006 untuk kota malang, sampah tak terangkut hanya 160 meter kubik. Namun, tahun 2007 volume sampah tak terangkut meningkat sampai 3.240 meter kubik. Itu belum termasuk data 2008 dan 2009 hingga Juni.  Terlihat bahwa volume sampah tiap tahunnya semakin meningkat. Dari data tingginya jumlah pengguna energi di Indonesia khususnya di tingkat penggunaan bahan bakar minyak , maka solusi yang ditawarkan ialah gagasan berupa pemanfaatan  sampah organik sebagai bahan dasar utama  dalam pembuatan bioetanol.

2. Tujuan :

  1. Mempercepat proses penghancuran sampah dan mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih berguna menjadi bioetanol. Karena dengan alat ini sampah organik akan berubah menjadi pupuk kompos dan sampah anorganik bisa diubah menjadi minyak (bahan bakar) dengan proses – proses selanjutnya. Bila dibandingkan dengan alat pencacah lain yang hanya bisa digunakan untuk satu jenis sampah saja, alat pencacah ini bisa digunakan untuk dua jenis sampah.
  2. Memudahkan dalam memecahkan masalah sampah skala rumah tangga.
  3. Mengurangi permasalahan penumpukkan sampah kota karena sebelum sampah masuk ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir), sampah akan lebih dahulu diubah menjadi bioetanol dan kompos.
  4. Untuk mengetahui bagaimanakah cara pemanfaatan limbah organik sebagai bahan dasar bioetanol dalam menghadapi krisis energi global.

3. Bioetanol dan Pengolahannya

Bio-etanol merupakan salah satu jenis biofuel (bahan bakar cair dari pengolahan tumbuhan) di samping Biodiesel. Bio-etanol adalah etanol yang dihasilkan dari fermentasi glukosa (gula) yang dilanjutkan dengan proses destilasi. Proses destilasi dapat menghasilkan etanol dengan kadar 95% volume, untuk digunakan sebagai bahan bakar (biofuel) perlu lebih dimurnikan lagi hingga mencapai 99% yang lazim disebut fuel grade ethanol (FGE). Bahan baku bioetanol adalah adalah sebagai berikut:
  1. Bahan berpati, berupa singkong atau ubi kayu, ubi jalar, tepung sagu, biji jagung, biji sorgum, gandum, kentang, ganyong, garut, umbi dahlia dan lain-lain.
  2.  Bahan bergula, berupa molasses (tetes tebu), nira tebu, nira kelapa, nila batang sorgum manis, nira aren (enau), nira nipah, gewang, nila lontar dan lain-lain.
  3. Bahan berselulosa, berupa limbah logging, limbah pertanian seperti jerami padi, ampas tebu, janggel (tongkol) jagung, oggok (limbah tapioka), batang pisang, serbuk gergaji  (grajen) dan lain-lain.
  4. Proses pemurnian dengan prinsip dehidrasi umumnya dilakukan dengan metode Molecular Sieve, untuk memisahkan air dari senyawa etanol.
Secara umum, proses pengolahan bahan berpati seperti ubi kayu, jagung dan sagu untuk menghasilkan bio-etanol dilakukan dengan proses urutan. Pertama adalah proses hidrolisis, yakni proses konversi pati menjadi glukosa. Pati merupakan homopolimer glukosa dengan ikatan a-glikosidik. Pati terdiri dari dua fraksi yang dapat dipisahkan dengan air panas, fraksi terlarut disebut amilosa dan
fraksi tidak terlarut disebut amilopektin. Amilosa mempunyai struktur lurus dengan ikatan a-(1,4)-D-glikosidik sedangkan amilopektin mempunyai struktur bercabang dengan ikatan a-(1,6)-D-glikosidik sebanyak 4-5% dari berat total.
Prinsip dari hidrolisis pati pada dasarnya adalah pemutusan rantai polimer pati menjadi unit-unit dekstrosa (C6H12O6). Pemutusan rantai polimer tersebut dapat dilakukan dengan berbagai metode, misalnya secara enzimatis, kimiawi ataupun kombinasi keduanya. Hidrolisis secara enzimatis memiliki perbedaan mendasar dibandingkan hidrolisis secara kimiawi dan fisik dalam hal spesifitas pemutusan rantai polimer pati. Hidrolisis secara kimiawi dan fisik akan memutus rantai polimer secara acak, sedangkan hidrolisis enzimatis akan memutus rantai polimer secara spesifik pada percabangan tertentu.
Enzim yang digunakan adalah alfa-amilase pada tahap likuifikasi, sedangkan tahap sakarifikasi digunakan enzim glukoamilase. Berdasarkan penelitian, penggunaan a-amilase pada tahap likuifikasi menghasilkan DE tertinggi yaitu 50.83 pada konsentrasi a-amilase 1.75 U/g pati dan waktu likuifikasi 210 menit, dan glukoamilase pada tahap sakarifikasi menghasilkan DE tertinggi yaitu 98.99 pada konsentrasi enzim 0.3 U/g pati dengan waktu sakarifikasi 48 jam.
Tahap kedua adalah proses fermentasi untuk mengkonversi glukosa (gula) menjadi etanol dan CO2. Fermentasi etanol adalah perubahan 1 mol gula menjadi 2 mol etanol dan 2 mol CO2. Pada proses fermentasi etanol, khamir terutama akan memetabolisme glukosa dan fruktosa membentuk asam piruvat melalui tahapan reaksi pada jalur Embden-Meyerhof-Parnas, sedangkan asam piruvat yang dihasilkan akan didekarboksilasi menjadi asetaldehida yang kemudian mengalami dehidrogenasi menjadi etanol (Amerine et al., 1987).

4. Manfaat

Manfaat dari inovasi model bioetanol adalah :

  1. Biaya pembangunan isntalasi biogas menjadi relatif murah karena ditanggung bersama-sama oleh beberapa penghasil limbah;
  2. Pengelolaan dan perawatan menjadi lebih mudah;
  3. Mampu memperbaiki sanitasi lingkungan akibat sampah  pada kelompok perumahan kecil;
  4. Mampu menyediakan energi pengganti BBM dengan harga murah bagi masyarakat.
  5. Sangat sesuai diterapkan dalam program PNPM ( Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) maupun program pemberdayaan masyarakat lainnya karena program ini dilaksanakan dalam skala komunitas.
Berdasarkan uraian di atas maka penggunaan bioetanolkomunal akan menyelesaikan permasalahan krisis energi  dan mampu menyediakan energi mandiri pada masyarakat. Dengan terbangunnya sistem sanitasi yang baik maka akan mengurangi resiko terjangkitnya penyakit pada hewan ternak akibat kontaminasi limbah organik, disamping itu akan mampu mengurangi pencemaran lingkungan akibat pengelolaan sampah yang kurang baik sekaligus menyediakan pupuk organik dalam skala komunitas.

5. Keunggulan dan Spesifikasi Perancangan Mesin 

  • Tipe : PLT-50 , Kapasitas : 50 kg / jam
  • Power : 8 HP
  • Dimensi mesin : 90x80x115 cm
  • Cutting size : 10 mm
  • Bahan : plat mild steel
  1. Dapat di bongkar pasang (tersusun atas 4 bagian) jadi dapat dirakit ditempat (bagian imput, pisau penghancur, output, compactornya)
  2.  portable,
  3. mudah dibersihkan dan maintainability
  4. Independent blade  pisau penghancurnya,
  5. Tersedia 2 pisau dengan tujuan ukuran potongan sampah kecil-kecil dan tidak membutuhkan daya penggerak  tambahan.
  6. Dilengkapi compactor berupa hidrolik agar sampah menjadi kering dan padat agar bisa langsung diolah
  7. Bisa untuk semua jenis sampah organik.

a1

6. Hasil Pengolahan Bioetanol
Teknik pembuatan bioetanol menggunakan limbah organik hampir sama dengan pengolahan ubi kayu menjadi etanol, yang membedakan ialah bahan dasar yang memanfaatkan sampah organik yang diolah dengan proses fermentasi hingga menghasilkan  etanol.  Dalam teknik pengolahannya yaitu :
  1. Limbah Rumah Tangga (berasal dari perumahan)
  2. Sortasi
  3. Pengecilan ukuran
  4. Pemberian bakteri asam laktat
  5. Penyimpanan secara anaerobik
  6. Sakarifikasi enzim Alpha amylase & Glukoamilase Crude enzimAspergillus niger
  7. Fermentasi  30ºC
  8. Bioetanol

Dari uji coba yang dilakukan, dapat dihasikan bioetanol dengan kandungan sekitar 85 %. Proses pengolahan bioetanol dilakukan di dalam ruangan yang mampu menampung 100 drum plastik yang tertutup rapat. Di dalam drum yang masing-masing berkapasitas 100 liter tersebut berisi cairan fermentasi yang berasal dari sampah. Hasil fermentasi kemudian disuling. Sulingan pertama menghasilkan bioetanol berkadar 40-50%. Bioetanol ini bisa dipakai untuk bahan bakar kompor. Bila hasil sulingan pertama itu disuling sekali lagi maka akan menghasilkan bioetanol berkadar 90 %. Proses ini dapat menghasilkan 80-100 liter bioetanol berkadar 50 % setiap hari sehingga total produksi bisa mencapai sekitar 2.400 liter per bulan.

PENGOLAHAN SAMPAH PLASTIK MENJADI MINYAK MENTAH DARI KONSENSASI GAS METHANE MENGGUNAKAN PEMANASAN

1. Latar Belakang

Gas alam merupakan salah satu bahan penting yang menjadi sumber bahan bakar untuk berbagai keperluan manusia. Selama perkembangan peradaban manusia, gas alam telah banyak memberikan kontribusi dalam mempermudah dan meringankan pekerjaan manusia. Selama ini, gas alam telah digunakan terutama sebagai sumber bahan bakar yang belakangan menjadi kian populer setelah bahan bakar berbasis fosil lainnya mulai mengalami penipisan stok, yang membuat kita mulai mencari alternatif bahan bakar lain. Dan gas alam inilah yang kemudian menjadi salah satu alternatif tersebut.

Selain itu, gas alam telah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya, seperti bahan baku untuk penyusunan komponen lainnya yang sangat berbeda dari unsur pembentuk utamanya, misalnya pupuk, dan sebagai komoditas energi. Namun tak dapat dipungkiri bahwa meskipun gas alam dipilih sebagai alternatif penggunaan energi dibandingkan dengan bahan bakar fosil lainnya yang lebih banyak menghasilkan polusi, namun gas alam juga merupakan salah satu sumber polusi yang memberikan dampak yang cukup signifikan.

Kekhawatiran mengenai polusi yang ditimbulkan akibat penggunaan bahan bakar yang berasal dari gas alam ini tentunya cukup beralasan. Pemanasan global telah mencapai tingkatan yang mengkhawatirkan, dan bukan tidak mungkin akan mengancam kelangsunagn hidup sebagian besar makhluk di muka bumi ini, khususnya manusia. Dan gas alam merupakan salah satu penyumbang dari kian meningkatnya pemanasan global ini. Salah satu unsur gas alam yang menjadi sebuah kekhawatiran bagi pertumbuhan tingkat polusi udara adalah metana. Metana yang terlepas ke atmosfir akan menjadi salah satu gas rumah kaca yang hanya melewatkan panas matahari masuk ke bumi, namun menghalangi panas yang terpantul dari bawah untuk terlepas kembali ke angkasa, sehingga panas tersebut akan terpantul kembali ke bumi dan menignkatkan suhu di bumi secara global.

Tingkat emisi metana ini merupakan salah satu faktor yang cukup mengkhawatirkan dalam peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfir dengan tingkat bahaya yang sangat tinggi. Informasi terakhir yang paling hangat membuktikan bahwa gas metana mempunyai efek pemanasan 25 kali lebih kuat dalam menyebabkan pemanasan global dibandingkan CO2. Perhitungan ini berdasarkan rata-rata dari efek pemanasan metana selama 100 tahun. Akan tetapi, setelah 1 dekade, gas metana sulit dilacak dan hampir menghilang setelah 20 tahun, Dengan demikian secara dramatis akan menghabiskan rata-rata 1 abad untuk mengurangi dampak gas metana. Dan karena kita tidak mempunyai waktu 100 tahun untuk mengurangi efek gas rumah kaca kita maka perhitungan terbaru menunjukkan bahwa selama periode 20 tahun efek pemanasan metana menjadi 72 kali lebih kuat.

Hal inilah yang kemudian mendasari ketertarikan penyusun makalah ini untuk membahas masalah pencemaran lingkungan, khususnya pencemaran udara oleh gas metana yang kemudian berdampak pada meningkatnmya Efek Rumah Kaca dan pemanasan global di bumi. Penyusun menyadari bahwa pembahasan dengan topik serupa sudah banyak dipaparkan dalam berbagai media lainnya, namun hal tersebut tidak menyurutkan niat penyusun untuk tetap menyusun makah ini, dengan tujuan untuk menambah khazanah pengetahuan kita mengenai bahaya pencemaran lingklungan oleh gas metana, sehingga dapat dijadikan dasar untuk melakukan pencegahan terhadap dampak buruk yang ditimbulkannya, minimal mengurangi dampak tersebut hingga ke batas minimum.

2.  Tujuan dan Manfaat

Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, tujuan utama dari penyusunan makalah ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan mengenai hal-hal penting yang terkait dengan masalah pencemaran lingkungan, yang dalam hal ini difokuskan terhadap pencemaran udara yang disebabkan oleh gas metana. Selanjutnya, tujuan tersebut dapat dirincikan secara lebih khusus menjadi sebagai berikut:

  1. Meningkatkan pengetahuan tentang gas metana dan pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh gas alam tersebut
  2. Meningkatkan pengetahuan tentang bahaya yang ditimbulkian oleh pencemaran lingkungan oleh gas metana, baik terhadap manusia maupun terhadap lingkungan itu sendiri
  3. Meningkatkan pengetahuan tentang langkah-langkah dan upaya-uapaya yang dapat dilakukan untuk menekan pencemaran lingkungan yangh disebabkan oleh gas metana ini

Diharapkan dengan penyusunan makalah ini akan memberikan manfaat terhadap upaya untuk mengurangi pencemaran lingkungan, khususnya pencemaran udara yang ditimbulkan oleh gas metana. Hal ini tidak terlepas dari upaya global untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

3. Gambaran Umum Proses

a2

Gambar 1. Skematik alat konversi limbah plastik menjadi minyak mentah.

 Keterangan :

  • A : Tabung pirolisis; terjadi pemanasan secara radiasi (radiative heating) yang menyebabkan thermal cracking dari pellet sampah plasti, sehingga pellet sam[ah plastik mengalami degradasi, mencair (liquefaction) dan kemudian menjadi gas.
  • B : Gas hasil pirolisis mengalir pada suatu tube yang terhubung ke tabung berisi air.
  • C : Uap hasil pirolis pelet sampah plastic mengalami kondensasi oleh air (water-condensed) sehingga berubah menjadi fase cairan yang sudah berupa minyak mentah. Karena perbedaan massa jeni, maka cairan minyak berada di atas air.
  • D : Cairan minyak yang mengapung di atas air masuk ke tube yang terhubung ke penampungan minyak mentah agar terpisah dari air.
  • E : Cairan minyak mentah ditampung di ditabung. Pada tabung ini, keseluruhan cairan berupa minyak mentah yang sudah siap di distilasi.

4. Skematik Proses

a4